Guru dan Semangatnya
Menjadi guru, bukanlah pekerjaan mudah. Didalamnya, dituntut pengabdian, dan
juga ketekunan. Harus ada pula kesabaran, dan welas asih dalam menyampaikan
pelajaran. Sebab, sejatinya, guru bukan hanya mendidik, tapi juga mengajarkan.
Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menjalankannya.
Menjadi guru juga bukan sesuatu yang gampang. Apalagi, menjadi guru bagi
anak-anak yang mempunyai “keistimewaan”. Dan saya, merasa beruntung sekali dapat
menjadi guru mereka, walau cuma dalam beberapa jam saja. Ada kenikmatan
tersendiri, berada di tengah anak-anak dengan latar belakang Cerebral Palsy
(sindroma gangguan otak belakang).
Suatu ketika, saya diminta untuk mendampingi seorang guru, di sebuah kelas
khusus bagi penyandang cacat. Kelas itu, disebut dengan kelas persiapan, sebuah
kelas yang berada dalam tingkatan awal di YPAC Jakarta. Lazimnya, anak-anak
disana berumur antara 9-12 tahun, tapi kemampuan mereka setara dengan anak
berusia 4-5 tahun, atau kelas 0 kecil.
Saat hadir disana, kelas tampak ramai. Mereka rupanya sedang bermain susun
bentuk dan warna. Ada teriak-teriakan ganjil yang parau, dan hentakan-hentakan
kepala yang konstan dari mereka. Ada pula tangan-tangan yang kaku, yang sedang
menyusun keping-keping diagram. Disana-sini terserak mainan kayu dan plastik.
Riuh. Bangku-bangku khusus berderak-derak, bergesek dengan kursi roda sebagian
anak yang beradu dengan lantai.
Saya merasa canggung dengan semua itu. Namun, perasaan itu hilang, saat melihat
seorang guru yang tampak begitu telaten menemani anak-anak disana. “Mari masuk,
duduk sini dekat Si Abang, dia makin pinter lho bikin huruf,” begitu panggilnya
kepada saya. Saya berjalan, melewati anak-anak yang masih sibuk dengan tugas
mereka. Ah benar saja, si Abang, anak berusia 11 tahun yang mengalami Cerebral
Palsy dengan pembesaran kepala itu, tampak tersenyum kepada saya. Badannya
melonjak-lonjak, tangannya memanggil-manggil seakan ingin pamer dengan
kepandaiannya menyusun huruf.
Subhanallah, si Abang kembali melonjak-lonjak. Saya kaget. Saya tersenyum. Dia
tergelak tertawa. Tak lama, kami pun mulai akrab. Dia tak malu lagi dibantu
menyusun angka dan huruf. Susun-tempel-susun-tempel, begitu yang kami lakukan.
Ah, saya mulai menikmati pekerjaan ini. Dia pun kini tampak bergayut di tangan
saya. Tanpa terasa, saya mengelus kepalanya dan mendekatkannya ke dada. Terasa
damai dan hangat.
Sementara di sudut lain, sang Ibu guru tetap sabar sekali menemani semua anak
disana. Dituntunnya tangan anak-anak itu untuk meniti susunan-susunan gambar.
Dibimbingnya setiap jemari dengan tekun, sambil sesekali mengajak mereka
tersenyum. Tangannya tak henti mengusap lembut ujung-ujung jemari lemah itu.
Namun, tak pernah ada keluh, dan marah yang saya dengar.
Waktu berjalan begitu cepat. Dan kini, waktunya untuk pulang. Setelah
membereskan beberapa permainan, anak-anak pun bersiap di bangku masing-masing.
Dduh, damai sekali melihat anak-anak itu bersiap dengan posisi serapih-rapihnya.
Tangan yang bersedekap diatas meja, dan tatapan polos kearah depan, saya yakin,
membuat setiap orang tersenyum. Ibu guru pun mulai memimpin doa, memimpin setiap
anak untuk mengatupkan mata dan memanjatkan harap kepada Tuhan.
Damai. Damai sekali mata-mata yang mengatup itu. Teduh. Teduh sekali melihat
mata mereka semua terpejam. Empat jam sudah saya bersama “malaikat-malaikat”
kecil itu. Lelah dan penat yang saya rasakan, tampak tak berarti dibanding
dengan pengalaman batin yang saya alami. Kini, mereka bergerak, berbaris menuju
pintu keluar. Tampak satu persatu kursi roda bergerak menuju ke arah saya.
Ddduh, ada apa ini?
Lagi-lagi saya terharu. Setibanya di depan saya, mereka semua terdiam,
mengisyaratkan untuk mencium tangan. Ya, mereka mencium tangan saya, sambil
berkata, “Selamat siang Pak Guru..” Ah, perkataan yang tulus yang membuat saya
melambung. Pak guru…Pak Guru, begitu ucap mereka satu persatu. Kursi roda
mereka berderak-derak setiap kali mereka mengayuhnya menuju ke arah saya.
Derak-derak itu kembali membuat saya terharu, membayangkan usaha mereka untuk
sekedar mencium tangan saya.
Anak yang terakhir telah mencium tangan saya. Kini, tatapan saya bergerak ke
samping, ke arah punggung anak-anak yang berjalan ke pintu keluar. Dalam diam
saya berucap, “..selamat jalan anak-anak, selamat jalan malaikat-malaikat
kecilku…” Saya membiarkan airmata yang menetes di sela-sela kelopak. Saya
biarkan bulir itu jatuh, untuk melukiskan perasaan haru dan bangga saya. Bangga
kepada perjuangan mereka, dan juga haru pada semangat yang mereka punya.
***
Teman, menjadi guru bukan pekerjaan mentereng. Menjadi guru juga bukan pekerjaan
yang gemerlap. Tak ada kerlap-kerlip lampu sorot yang memancar, juga
pendar-pendar cahaya setiap kali guru-guru itu sedang membaktikan diri. Sebab
mereka memang bukan para pesohor, bukan pula bintang panggung.
Namun, ada sesuatu yang mulia disana. Pada guru lah ada kerlap-kerlip cahaya
kebajikan dalam setiap nilai yang mereka ajarkan. Lewat guru lah memancar
pendar-pendar sinar keikhlasan dan ketulusan pada kerja yang mereka lakukan.
Merekalah sumber cahaya-cahaya itu, yang menyinari setiap hati anak-anak didik
mereka.
Dari gurulah kita belajar mengeja kata dan kalimat. Pada gurulah kita belajar
lamat-lamat bahasa dunia. Lewat guru, kita belajar budi pekerti, belajar
mengasah hati, dan menyelami nurani. Lewat guru pula kita mengerti tentang
banyak hal-hal yang tak kita pahami sebelumnya. Tak berlebihankah jika kita
menyebutnya sebagai pekerjaan yang mulia?
Teman, jika ingin merasakan pengalaman batin yang berbeda, cobalah menjadi guru.
Rasakan kenikmatan saat setiap anak-anak itu memanggil Anda dengan sebutan itu,
dan biarkan mata penuh perhatian itu memenuhi hati Anda. Ada sesuatu yang
berbeda disana. Cobalah. Rasakan.
Pencarian
,,artikel tentang guru (757),artikel guru (348),cerita tentang guru (200),motivasi guru (191),motivasi menjadi guru (138),cerita guru (125),cerita motivasi guru (104),motivasi untuk guru (92),puisi untuk guru tercinta (55),artikel pekerjaan guru (43),motivasi jadi guru (36),artikel motivasi guru (33),tulisan tentang guru (29),artikel mengenai guru (28),cerita motivasi tentang guru (28)
Tags: Artikel Motivasi, Cerita Hikmah, Cerita Motivasi, Cerita Renungan —
Comments for Guru dan Semangatnya
Trackbacks Motivasi
- sukismanstmikpsw



Sangat menyentuh..,pekerjaan guru memang sangat mulia sekalipun gaji dan perhatian kpd mereka sangat minim..Terima Kasih GURU….
ijin copas artikel ya boss..
thanx..
ijin meng copy ya bos… terimakasih
tulisan2 yg sangat menarik..pasti sy akan berkunjung lagi…
oiya,,saya juga izin meng-copy tulisan ini,,,sy terkesan dg artikel ttg guru ini…
Menjadi guru, bukanlah pekerjaan mudah. Didalamnya, dituntut pengabdian, dan
juga ketekunan. Harus ada pula kesabaran, dan welas asih dalam menyampaikan
pelajaran. Sebab, sejatinya, guru bukan hanya mendidik, tapi juga mengajarkan.
Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menjalankannya.
Menjadi guru juga bukan sesuatu yang gampang. Apalagi, menjadi guru bagi
anak-anak yang mempunyai “keistimewaan”. Dan saya, merasa beruntung sekali dapat
menjadi guru mereka, walau cuma dalam beberapa jam saja. Ada kenikmatan
tersendiri, berada di tengah anak-anak dengan latar belakang Cerebral Palsy
(sindroma gangguan otak belakang).
Suatu ketika, saya diminta untuk mendampingi seorang guru, di sebuah kelas
khusus bagi penyandang cacat. Kelas itu, disebut dengan kelas persiapan, sebuah
kelas yang berada dalam tingkatan awal di YPAC Jakarta. Lazimnya, anak-anak
disana berumur antara 9-12 tahun, tapi kemampuan mereka setara dengan anak
berusia 4-5 tahun, atau kelas 0 kecil.
Saat hadir disana, kelas tampak ramai. Mereka rupanya sedang bermain susun
bentuk dan warna. Ada teriak-teriakan ganjil yang parau, dan hentakan-hentakan
kepala yang konstan dari mereka. Ada pula tangan-tangan yang kaku, yang sedang
menyusun keping-keping diagram. Disana-sini terserak mainan kayu dan plastik.
Riuh. Bangku-bangku khusus berderak-derak, bergesek dengan kursi roda sebagian
anak yang beradu dengan lantai.
Saya merasa canggung dengan semua itu. Namun, perasaan itu hilang, saat melihat
seorang guru yang tampak begitu telaten menemani anak-anak disana. “Mari masuk,
duduk sini dekat Si Abang, dia makin pinter lho bikin huruf,” begitu panggilnya
kepada saya. Saya berjalan, melewati anak-anak yang masih sibuk dengan tugas
mereka. Ah benar saja, si Abang, anak berusia 11 tahun yang mengalami Cerebral
Palsy dengan pembesaran kepala itu, tampak tersenyum kepada saya. Badannya
melonjak-lonjak, tangannya memanggil-manggil seakan ingin pamer dengan
kepandaiannya menyusun huruf.
Subhanallah, si Abang kembali melonjak-lonjak. Saya kaget. Saya tersenyum. Dia
tergelak tertawa. Tak lama, kami pun mulai akrab. Dia tak malu lagi dibantu
menyusun angka dan huruf. Susun-tempel-susun-tempel, begitu yang kami lakukan.
Ah, saya mulai menikmati pekerjaan ini. Dia pun kini tampak bergayut di tangan
saya. Tanpa terasa, saya mengelus kepalanya dan mendekatkannya ke dada. Terasa
damai dan hangat.
Sementara di sudut lain, sang Ibu guru tetap sabar sekali menemani semua anak
disana. Dituntunnya tangan anak-anak itu untuk meniti susunan-susunan gambar.
Dibimbingnya setiap jemari dengan tekun, sambil sesekali mengajak mereka
tersenyum. Tangannya tak henti mengusap lembut ujung-ujung jemari lemah itu.
Namun, tak pernah ada keluh, dan marah yang saya dengar.
Waktu berjalan begitu cepat. Dan kini, waktunya untuk pulang. Setelah
membereskan beberapa permainan, anak-anak pun bersiap di bangku masing-masing.
Dduh, damai sekali melihat anak-anak itu bersiap dengan posisi serapih-rapihnya.
Tangan yang bersedekap diatas meja, dan tatapan polos kearah depan, saya yakin,
membuat setiap orang tersenyum. Ibu guru pun mulai memimpin doa, memimpin setiap
anak untuk mengatupkan mata dan memanjatkan harap kepada Tuhan.
Damai. Damai sekali mata-mata yang mengatup itu. Teduh. Teduh sekali melihat
mata mereka semua terpejam. Empat jam sudah saya bersama “malaikat-malaikat”
kecil itu. Lelah dan penat yang saya rasakan, tampak tak berarti dibanding
dengan pengalaman batin yang saya alami. Kini, mereka bergerak, berbaris menuju
pintu keluar. Tampak satu persatu kursi roda bergerak menuju ke arah saya.
Ddduh, ada apa ini?
Lagi-lagi saya terharu. Setibanya di depan saya, mereka semua terdiam,
mengisyaratkan untuk mencium tangan. Ya, mereka mencium tangan saya, sambil
berkata, “Selamat siang Pak Guru..” Ah, perkataan yang tulus yang membuat saya
melambung. Pak guru…Pak Guru, begitu ucap mereka satu persatu. Kursi roda
mereka berderak-derak setiap kali mereka mengayuhnya menuju ke arah saya.
Derak-derak itu kembali membuat saya terharu, membayangkan usaha mereka untuk
sekedar mencium tangan saya.
Anak yang terakhir telah mencium tangan saya. Kini, tatapan saya bergerak ke
samping, ke arah punggung anak-anak yang berjalan ke pintu keluar. Dalam diam
saya berucap, “..selamat jalan anak-anak, selamat jalan malaikat-malaikat
kecilku…” Saya membiarkan airmata yang menetes di sela-sela kelopak. Saya
biarkan bulir itu jatuh, untuk melukiskan perasaan haru dan bangga saya. Bangga
kepada perjuangan mereka, dan juga haru pada semangat yang mereka punya.
***
Teman, menjadi guru bukan pekerjaan mentereng. Menjadi guru juga bukan pekerjaan
yang gemerlap. Tak ada kerlap-kerlip lampu sorot yang memancar, juga
pendar-pendar cahaya setiap kali guru-guru itu sedang membaktikan diri. Sebab
mereka memang bukan para pesohor, bukan pula bintang panggung.
Namun, ada sesuatu yang mulia disana. Pada guru lah ada kerlap-kerlip cahaya
kebajikan dalam setiap nilai yang mereka ajarkan. Lewat guru lah memancar
pendar-pendar sinar keikhlasan dan ketulusan pada kerja yang mereka lakukan.
Merekalah sumber cahaya-cahaya itu, yang menyinari setiap hati anak-anak didik
mereka.
Dari gurulah kita belajar mengeja kata dan kalimat. Pada gurulah kita belajar
lamat-lamat bahasa dunia. Lewat guru, kita belajar budi pekerti, belajar
mengasah hati, dan menyelami nurani. Lewat guru pula kita mengerti tentang
banyak hal-hal yang tak kita pahami sebelumnya. Tak berlebihankah jika kita
menyebutnya sebagai pekerjaan yang mulia?
Teman, jika ingin merasakan pengalaman batin yang berbeda, cobalah menjadi guru.
Rasakan kenikmatan saat setiap anak-anak itu memanggil Anda dengan sebutan itu,
dan biarkan mata penuh perhatian itu memenuhi hati Anda. Ada sesuatu yang
berbeda disana. Cobalah. Rasakan.
Minta izin untuk copy yaa bos
pokoknya tambah semangat pingin jadi guru!!!
ijin co pas yya,,
ha.h.a
minta izin tuk mengcopi ya mas……
tulisanmu sangat mengharukan………harusnya semua guru juga memvac artikel ini.
ijin ngopi yach ^_^……
kaarena sayapun seorang calon guru jadi kata2 tadi sangat2 memotivasi
menjadi seorang guru yang propesional dan bijak, sungguh hany sedikit dari guru, tapi guru memang pekrjaan Yang sdkt orang bisa melakoni peran menjadi guru
menjadi seorang guru adalah panggilan jiwa,,,,
ijin kopas bos
ijin baca…
kesimpulan: memang luar biasa orang-orang yang menjadi guru….perlu kita beri penghargaan setinggi-tingginya…
Tulisan dari hati yang menyentuh hati…
Artikel tentang guru, sungguh menggugah perasaan, semoga yang membacanya, terkhusus guru, dapat menjadi apa yang tertera dalam tulisan artikel guru tersebut, bahwa sanya guru bukan hanya mendidik namun juga mengajarkan, dengan penuh rasa sabar dan welas hati dlam menyampaikan pelajaran.
Ohh God.. Klo ada kesempatan ke-2, qu mau ngajar lagi… Kangen ama suara anak2 dengan sifat, tingkah laku dan keberadaan mereka….
Memang berat menjadi seorang guru
tidak salah disebut pahlawan tanpa tandajasa
Izin men-share sebagian di facebook…..
thanks so much sungguh sangat tersentuh hatiku ketika membaca perjuangan seorng guru yang kadang-kadang sering mendapatkan macian dari orang lain,,,, sukses trus tuk teman2 guru,,,,,,,,,,, bravo pendidikan maju terus indonesia
sungguh artikel yg memberi semangat kpd para pengajar yang mungkin sudah kehilangan semangat dan tantangan dalam profesinya.
izin copas y bos . . ..
subhanallah…motivasi besar buat saya untuk meneruskan cita2 saya jd guru!!trimakaSih,,…
sebelumnya saya ucapkan kepada seluruh guru saya yg mtlah mendidik saya,, dan pada guru seluruhnya,,,
semoga masih masih banyak guru2 yg mendidik dgn hati mereka bukan tugas semata,,, karna dari tangan2 guru semoga banyak lagi para laskar pelangi bermunculan,,,, hidup guru indonesia,, walau untuk itu mereka berjimbaku dgn peluh dan lelah,,,,
terus semagat guru-guru ku yang aku banggakan jangan terlarut arus zaman semoga budi menjadi berguna
q lgi ambil kul jrusan pndidkan hbis baca artikel ini terus terang q terharu bgt,tp knapa y q merasa tugas yang akan q ampu terlalu berat mungkinkah q bisa memenuhi harapan setiap putra didik q kelak …… i do no…
Cerita Motivasi yang sangat Luar..Biasa.. dan bisa membuat kita bangga,terharu,tersentuh dan semua perasaan yg tak bisa diungkapkan untuk para guru yg telah mendidik kita. “Terima Kasih…Bapak dan Ibu Guru di manapun Berada..”
Mas aku minta ijin untuk mempublikasikan (copas) ke blogku yah…
thx
Seperti kata ketua PGRI,
Guru itu seperti daun salam… Pengharum yang membuat aroma sayur menjadi sedap, pahlawan yang membuat rasanya menjadi enak.. tetapi ketika sayur itu sudah jadi, daun salam tidak akan mungkin ikut disuguhkan, katanya gak sopan kalau menyuguhkan sayur yang ada daun salamnya, gak pantes..
sangat luar biasa,
Subhanallah, sungguh pekerjaan yg mulia….
cita2ku yg blm tercapai…
mksh artikelnya Pak…
izin copy ya pak…
makasih sebelumnya.
izin d copas yahh.. maksih banyak…
saya yang juga berprofesi sebagai guru,merasa terobsesi untuk memberi pelajaran yang terbaik bagi anak murid.seorang guru slb ternyata jauh lebih berat tugasnya daripada saya yang mengajar anak – anak normal.itupun kadang kala saya merasa berat dan capek.apalagi disaat kesehatan saya agak terganggu.terima kasih sobat ceritamu sungguh hebat
semangattt bu guru…!!!!
Artikel ini membuat hatiku semakin hidup.Karen aku pun seorang guru.
jadi .. , mau jdie guru deegh ..
artikelnya bagus bgt
alhamdulillah sya dbri ksmpatan mnjdi guru.
sya hanya bisa brusaha memberikan ilmu sebaik mungkin, dan berharap ilmu itu bermanfaat bagi murid sya spanjang masa ny.
artikel yang sangat mengharukan….
sekarang ini saya berusaha menjadi seorang guru yang baik di depan murid-murid saya, karna saya tahu bahwa saya tidak akan pernah menjadi orang yang sempurna di depannya. tapi senyum yang diberikan oleh murid-murid saya, membuat saya tahu bahwa saya adalah lentera mereka, saya adalah tongkat mereka, saya adalah gambaran masa depan mereka. untuk itu saya akan tetap berusaha menjadikan impian mereka menjadi kenyataan… walau terkadang saya harus terjatuh….
ya, menjadi guru kalau “benar-benar guru” itu cukup berat dan mulia, karena tugas guru adalah ada dua yaitu mengajar dan mendidik. Kalau mengajar gampang, semua orang bisa, tetapi tugas guru yg berat adalah “mendidik”, karena tidak semua orang/guru mampu mendidik.
Kalau mengajar sasarannya adalah otak, dari siswa tidak bisa matematika, jadi bisa, dari tidak bisa bahasa inggris jadi bisa, dst. Itu semau dari hasil belajar.
Sedangkan kalau mendidik sasarannya adalah “hati”. Hasil pendidikan bisa dilihat dari sikap, moral atau akhlaknya. Untuk membentuk sikap yang baik ini sangat berat, perlu contoh suri tauladan dari guru dan harus selalu dikontrol dan selalu diingatkan.
Seorang guru jangankan untuk mendidik sekian banyak siswa, mendidik satu orang yaitu dirinya sendiri sangat berat,yaitu harus selalu menjadi suri tauladan untuk siswa-siswanya. Tetapi bagi “yang benar-benar guru” hal ini harus selalu dilakukan. Oleh karenanya menjadi guru itu sangat berat tetapi mulia.
Saya prihatin sekali dengan dihilangkannya istilah “IKIP”. Karena kepanjangan IKIP adalah “Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan”. Keguruannya menjadi guru yg fungsinya “Mengajar” sedangkan Pendidikannya itu berfungsi untuk menjadi seorang “Mendidik”.
Wajar sekarang bangsa ini makin berantakan saja, karena sudah tidak/kurang pendidikan lagi. Korupsi merajalela hampir di semua bidang!!!
Crt diatas mmang sgt bnar, it mggambrkan ttg dri sy, sy jg adalah slah satu guru yg mgajar pd skolah dgn ank2 yg trlhir “istimewa” tp sy bangga mskipun bnyk yg mencibir profesi sy,krn sy tau apa yg sy lakukan sngatlah mulia. Thnx buat artikelx it smakin mnambh motifasi untk sy..
Subhanallah…
Mengharukan..sungguh >>
izin di copas, buat dibagiin keteman-teman yang lain
T_T
Betul betul betul, hanya hatilah yang bisa menyentuh hati
bener bgt tuhhhh…..makasih untuk para guru2ku yg tlah membuat aq mengenal dunia
aq ingin mengikuti jejak langkahmu
aq ingin menjadi guru yg bisa mencetak generasi penerus yg berakhlak dan budi pekerti
sungguh .. artikel ini benar-benar membuat saya menangis . karena saat ini saya sebagai seorang murid, merasa bahwa kebanyakanm guru hanya menginginkan nama dari murid-muridnya . mereka hanya menginginkan murid-muridnya mendapat nilai yang baik , bukannya prestasi [kepintaran]. karena apabila nilai anak didiknya bagus, maka guru lain dan kepala sekolah akan bangga kepadanya . maap, bila saya menyinggung . tapi itu yang saya rasakan . semoga semua guru yang ada diseluruh dunia memiliki hati yang sama seperti cerita diaatas . cheers .. :]
sungguh .. artikel ini benar-benar membuat saya menangis . karena saat ini saya sebagai seorang murid, merasa bahwa kebanyakanm guru hanya menginginkan nama dari murid-muridnya . mereka hanya menginginkan murid-muridnya mendapat nilai yang baik , bukannya prestasi [kepintaran]. karena apabila nilai anak didiknya bagus, maka guru lain dan kepala sekolah akan bangga kepadanya . maap, bila saya menyinggung . tapi itu yang saya rasakan . semoga semua guru yang ada diseluruh dunia memiliki hati yang sama seperti cerita diaatas . cheers .. :]
Sangat menyentuh dan berkesan. Kebanyakan orang menilai dan mencita-citakan profesi yang menghasilkan pendapatan sangat besar.
Kadang-kadang dan sering dianggap setengah hati. Namun jika direnungkan, sebenarnya semua orang yg ada sedang berhutang pada seorang guru.
teman..sekarang guru gajinya besar kok…..kerjanya juga cuman beberapa jam aja…..
jadi guru emang nggak susah
Alhamdulillah masih ada yang sadar dan menaruh perhatian cukup besar pada pekerjaan yang mulia ini.
Namun tidak cukup dengan sebuah perhatian, kita seharusnya juga melakukan tindakan untuk guru.
khususnya teknik pengajaran yang diberlakukan oleh guru-guru pada sekolah umumnya. Mereka terkesan hanya melakukan sebuah pengajaran dan pen”didik”annya yang bersifa secara “ala kadarnya”.
berbeda sekali dengan guru-guru yang mengajar di bimbinbgan belajar diluar sekolah, mereka terkenal dan tercatat sebagai guru yang cukup atraktif, sehingga pelajaran yang diterima oleh murid dapat dicerna dengan baiki.
Maka dari itu saya sebagai salah satu murid SMA, memohon dengan sangat agar kinerja guru-guru disekolah ditingkatkan. Bila perlu setiap bulan diadakan workshop untuk guru-guru tercinta..
Makasih ya Pak, Bu..Guru anda memang yang terbaik !!
SubhanaAllah sangat bagus sekali kisah ini, moga menjadi semangat baru bagi saya. Ijin Share ya
PAK ijin mengkopi…. mungkin akan say masukan sebgai refersi di buku saya.
salam
dion
kata-katanya subhanallah luar biasa dahsyat. saat ini saya sedang menjalankan studi di fakultas keguruan. saya terinspirasi dan termotivasi untuk menjadi guru yang profesional, mencerdaskan generasi penerus bangsa. Insyaallah.. amin
apabila seorang pendidik ikhlas di jalan Allah mengarahkan anak-anak pada kebaikan, akhlak yang baik maka dia akan mendapatkan kebaikan didunia dan akhirat
Wah jadi trenyuk nih bagi kami-kami yang berprofesi guru makasih ya …
Menjadi guru di era sekarang adalah tantangan, perjuangan, betapa tidak sudah banyak pergeseran nilai yang terjadi…Coba lihat anak-anak sekolah dasar,tanya mereka Apa cita-cita mereka?dengan kepolosannya mereka berkata pengen jadi artis…Mereka lebih hafal lagunya Ungu, ketimbang Indonesia Raya, Mereka lebih senang facebookan dibandingkan mencari ilmu di internet. Apakah yang salah mereka atau adakah yang salah dengan pendidikan kita?
Berapa banyak orang tua yang menyandarkan sepenuhnya pendidikan anaknya di sekolah? Pendidikan adalah tanggung jawab kita semua, guru, orang tua,pemerintah…
Sungguh profesi guru adalah profesi yang sangat mulia, tidak ada materi apapun yang dapat menukar jasa seorang guru, karena ditangan mereka karakater bangsa ini akan terbentuk…
Semoga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar! Berbahagialah dan banggalah anda jika memilih menjadi seorang “Guru”.
alhamdulillah saya sedang menuju perjalanan untuk menjadi seorang guru….semoga saya bisa menjadi guru sesungguhnya
mengharukan…
ijin ngopi ya boss, saya tampilkan di blog saya, semoga semakin banyak orang yang baca & semoga banyak memberi manfaat.
terima kasih banyak boss.
tulisan ini benar2 membangkitkan smangt ku dalam mengajar anak2. walaupun tak dibayar tapi pengalaman yang saya dapat dari mengajar telah melebihi apapun… thanks
wah… banyak juga bapak ibu guru yg komen…
mampir yaw schoolash.blogspot.com