Home » Artikel Motivasi » Guru dan Semangatnya

Menjadi guru, bukanlah pekerjaan mudah. Didalamnya, dituntut pengabdian, dan
juga ketekunan. Harus ada pula kesabaran, dan welas asih dalam menyampaikan
pelajaran. Sebab, sejatinya, guru bukan hanya mendidik, tapi juga mengajarkan.
Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menjalankannya.

Menjadi guru juga bukan sesuatu yang gampang. Apalagi, menjadi guru bagi
anak-anak yang mempunyai “keistimewaan”. Dan saya, merasa beruntung sekali dapat
menjadi guru mereka, walau cuma dalam beberapa jam saja. Ada kenikmatan
tersendiri, berada di tengah anak-anak dengan latar belakang Cerebral Palsy
(sindroma gangguan otak belakang).

Suatu ketika, saya diminta untuk mendampingi seorang guru, di sebuah kelas
khusus bagi penyandang cacat. Kelas itu, disebut dengan kelas persiapan, sebuah
kelas yang berada dalam tingkatan awal di YPAC Jakarta. Lazimnya, anak-anak
disana berumur antara 9-12 tahun, tapi kemampuan mereka setara dengan anak
berusia 4-5 tahun, atau kelas 0 kecil.

Saat hadir disana, kelas tampak ramai. Mereka rupanya sedang bermain susun
bentuk dan warna. Ada teriak-teriakan ganjil yang parau, dan hentakan-hentakan
kepala yang konstan dari mereka. Ada pula tangan-tangan yang kaku, yang sedang
menyusun keping-keping diagram. Disana-sini terserak mainan kayu dan plastik.
Riuh. Bangku-bangku khusus berderak-derak, bergesek dengan kursi roda sebagian
anak yang beradu dengan lantai.

Saya merasa canggung dengan semua itu. Namun, perasaan itu hilang, saat melihat
seorang guru yang tampak begitu telaten menemani anak-anak disana. “Mari masuk,
duduk sini dekat Si Abang, dia makin pinter lho bikin huruf,” begitu panggilnya
kepada saya. Saya berjalan, melewati anak-anak yang masih sibuk dengan tugas
mereka. Ah benar saja, si Abang, anak berusia 11 tahun yang mengalami Cerebral
Palsy dengan pembesaran kepala itu, tampak tersenyum kepada saya. Badannya
melonjak-lonjak, tangannya memanggil-manggil seakan ingin pamer dengan
kepandaiannya menyusun huruf.

Subhanallah, si Abang kembali melonjak-lonjak. Saya kaget. Saya tersenyum. Dia
tergelak tertawa. Tak lama, kami pun mulai akrab. Dia tak malu lagi dibantu
menyusun angka dan huruf. Susun-tempel-susun-tempel, begitu yang kami lakukan.
Ah, saya mulai menikmati pekerjaan ini. Dia pun kini tampak bergayut di tangan
saya. Tanpa terasa, saya mengelus kepalanya dan mendekatkannya ke dada. Terasa
damai dan hangat.

Sementara di sudut lain, sang Ibu guru tetap sabar sekali menemani semua anak
disana. Dituntunnya tangan anak-anak itu untuk meniti susunan-susunan gambar.
Dibimbingnya setiap jemari dengan tekun, sambil sesekali mengajak mereka
tersenyum. Tangannya tak henti mengusap lembut ujung-ujung jemari lemah itu.
Namun, tak pernah ada keluh, dan marah yang saya dengar.

Waktu berjalan begitu cepat. Dan kini, waktunya untuk pulang. Setelah
membereskan beberapa permainan, anak-anak pun bersiap di bangku masing-masing.
Dduh, damai sekali melihat anak-anak itu bersiap dengan posisi serapih-rapihnya.
Tangan yang bersedekap diatas meja, dan tatapan polos kearah depan, saya yakin,
membuat setiap orang tersenyum. Ibu guru pun mulai memimpin doa, memimpin setiap
anak untuk mengatupkan mata dan memanjatkan harap kepada Tuhan.

Damai. Damai sekali mata-mata yang mengatup itu. Teduh. Teduh sekali melihat
mata mereka semua terpejam. Empat jam sudah saya bersama “malaikat-malaikat”
kecil itu. Lelah dan penat yang saya rasakan, tampak tak berarti dibanding
dengan pengalaman batin yang saya alami. Kini, mereka bergerak, berbaris menuju
pintu keluar. Tampak satu persatu kursi roda bergerak menuju ke arah saya.
Ddduh, ada apa ini?

Lagi-lagi saya terharu. Setibanya di depan saya, mereka semua terdiam,
mengisyaratkan untuk mencium tangan. Ya, mereka mencium tangan saya, sambil
berkata, “Selamat siang Pak Guru..” Ah, perkataan yang tulus yang membuat saya
melambung. Pak guru…Pak Guru, begitu ucap mereka satu persatu. Kursi roda
mereka berderak-derak setiap kali mereka mengayuhnya menuju ke arah saya.
Derak-derak itu kembali membuat saya terharu, membayangkan usaha mereka untuk
sekedar mencium tangan saya.

Anak yang terakhir telah mencium tangan saya. Kini, tatapan saya bergerak ke
samping, ke arah punggung anak-anak yang berjalan ke pintu keluar. Dalam diam
saya berucap, “..selamat jalan anak-anak, selamat jalan malaikat-malaikat
kecilku…” Saya membiarkan airmata yang menetes di sela-sela kelopak. Saya
biarkan bulir itu jatuh, untuk melukiskan perasaan haru dan bangga saya. Bangga
kepada perjuangan mereka, dan juga haru pada semangat yang mereka punya.

***

Teman, menjadi guru bukan pekerjaan mentereng. Menjadi guru juga bukan pekerjaan
yang gemerlap. Tak ada kerlap-kerlip lampu sorot yang memancar, juga
pendar-pendar cahaya setiap kali guru-guru itu sedang membaktikan diri. Sebab
mereka memang bukan para pesohor, bukan pula bintang panggung.

Namun, ada sesuatu yang mulia disana. Pada guru lah ada kerlap-kerlip cahaya
kebajikan dalam setiap nilai yang mereka ajarkan. Lewat guru lah memancar
pendar-pendar sinar keikhlasan dan ketulusan pada kerja yang mereka lakukan.
Merekalah sumber cahaya-cahaya itu, yang menyinari setiap hati anak-anak didik
mereka.

Dari gurulah kita belajar mengeja kata dan kalimat. Pada gurulah kita belajar
lamat-lamat bahasa dunia. Lewat guru, kita belajar budi pekerti, belajar
mengasah hati, dan menyelami nurani. Lewat guru pula kita mengerti tentang
banyak hal-hal yang tak kita pahami sebelumnya. Tak berlebihankah jika kita
menyebutnya sebagai pekerjaan yang mulia?

Teman, jika ingin merasakan pengalaman batin yang berbeda, cobalah menjadi guru.
Rasakan kenikmatan saat setiap anak-anak itu memanggil Anda dengan sebutan itu,
dan biarkan mata penuh perhatian itu memenuhi hati Anda. Ada sesuatu yang
berbeda disana. Cobalah. Rasakan.

Pencarian

,,artikel tentang guru (757),artikel guru (348),cerita tentang guru (200),motivasi guru (191),motivasi menjadi guru (138),cerita guru (125),cerita motivasi guru (104),motivasi untuk guru (92),puisi untuk guru tercinta (55),artikel pekerjaan guru (43),motivasi jadi guru (36),artikel motivasi guru (33),tulisan tentang guru (29),artikel mengenai guru (28),cerita motivasi tentang guru (28)

Tags: , , ,

Comments for Guru dan Semangatnya
  1. hariadi // July 1st, 2009 at 3:45 am

    Sangat menyentuh..,pekerjaan guru memang sangat mulia sekalipun gaji dan perhatian kpd mereka sangat minim..Terima Kasih GURU….

  2. crow poc // July 3rd, 2009 at 10:16 pm

    ijin copas artikel ya boss..
    thanx..

  3. dinda // July 6th, 2009 at 9:03 am

    :)

  4. hartanto agus priambodo // July 12th, 2009 at 10:15 pm

    ijin meng copy ya bos… terimakasih

  5. mahriza // July 13th, 2009 at 12:25 am

    tulisan2 yg sangat menarik..pasti sy akan berkunjung lagi…
    oiya,,saya juga izin meng-copy tulisan ini,,,sy terkesan dg artikel ttg guru ini…

  6. Menjadi Seorang Guru // July 28th, 2009 at 12:31 pm

    Menjadi guru, bukanlah pekerjaan mudah. Didalamnya, dituntut pengabdian, dan
    juga ketekunan. Harus ada pula kesabaran, dan welas asih dalam menyampaikan
    pelajaran. Sebab, sejatinya, guru bukan hanya mendidik, tapi juga mengajarkan.
    Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menjalankannya.

    Menjadi guru juga bukan sesuatu yang gampang. Apalagi, menjadi guru bagi
    anak-anak yang mempunyai “keistimewaan”. Dan saya, merasa beruntung sekali dapat
    menjadi guru mereka, walau cuma dalam beberapa jam saja. Ada kenikmatan
    tersendiri, berada di tengah anak-anak dengan latar belakang Cerebral Palsy
    (sindroma gangguan otak belakang).

    Suatu ketika, saya diminta untuk mendampingi seorang guru, di sebuah kelas
    khusus bagi penyandang cacat. Kelas itu, disebut dengan kelas persiapan, sebuah
    kelas yang berada dalam tingkatan awal di YPAC Jakarta. Lazimnya, anak-anak
    disana berumur antara 9-12 tahun, tapi kemampuan mereka setara dengan anak
    berusia 4-5 tahun, atau kelas 0 kecil.

    Saat hadir disana, kelas tampak ramai. Mereka rupanya sedang bermain susun
    bentuk dan warna. Ada teriak-teriakan ganjil yang parau, dan hentakan-hentakan
    kepala yang konstan dari mereka. Ada pula tangan-tangan yang kaku, yang sedang
    menyusun keping-keping diagram. Disana-sini terserak mainan kayu dan plastik.
    Riuh. Bangku-bangku khusus berderak-derak, bergesek dengan kursi roda sebagian
    anak yang beradu dengan lantai.

    Saya merasa canggung dengan semua itu. Namun, perasaan itu hilang, saat melihat
    seorang guru yang tampak begitu telaten menemani anak-anak disana. “Mari masuk,
    duduk sini dekat Si Abang, dia makin pinter lho bikin huruf,” begitu panggilnya
    kepada saya. Saya berjalan, melewati anak-anak yang masih sibuk dengan tugas
    mereka. Ah benar saja, si Abang, anak berusia 11 tahun yang mengalami Cerebral
    Palsy dengan pembesaran kepala itu, tampak tersenyum kepada saya. Badannya
    melonjak-lonjak, tangannya memanggil-manggil seakan ingin pamer dengan
    kepandaiannya menyusun huruf.

    Subhanallah, si Abang kembali melonjak-lonjak. Saya kaget. Saya tersenyum. Dia
    tergelak tertawa. Tak lama, kami pun mulai akrab. Dia tak malu lagi dibantu
    menyusun angka dan huruf. Susun-tempel-susun-tempel, begitu yang kami lakukan.
    Ah, saya mulai menikmati pekerjaan ini. Dia pun kini tampak bergayut di tangan
    saya. Tanpa terasa, saya mengelus kepalanya dan mendekatkannya ke dada. Terasa
    damai dan hangat.

    Sementara di sudut lain, sang Ibu guru tetap sabar sekali menemani semua anak
    disana. Dituntunnya tangan anak-anak itu untuk meniti susunan-susunan gambar.
    Dibimbingnya setiap jemari dengan tekun, sambil sesekali mengajak mereka
    tersenyum. Tangannya tak henti mengusap lembut ujung-ujung jemari lemah itu.
    Namun, tak pernah ada keluh, dan marah yang saya dengar.

    Waktu berjalan begitu cepat. Dan kini, waktunya untuk pulang. Setelah
    membereskan beberapa permainan, anak-anak pun bersiap di bangku masing-masing.
    Dduh, damai sekali melihat anak-anak itu bersiap dengan posisi serapih-rapihnya.
    Tangan yang bersedekap diatas meja, dan tatapan polos kearah depan, saya yakin,
    membuat setiap orang tersenyum. Ibu guru pun mulai memimpin doa, memimpin setiap
    anak untuk mengatupkan mata dan memanjatkan harap kepada Tuhan.

    Damai. Damai sekali mata-mata yang mengatup itu. Teduh. Teduh sekali melihat
    mata mereka semua terpejam. Empat jam sudah saya bersama “malaikat-malaikat”
    kecil itu. Lelah dan penat yang saya rasakan, tampak tak berarti dibanding
    dengan pengalaman batin yang saya alami. Kini, mereka bergerak, berbaris menuju
    pintu keluar. Tampak satu persatu kursi roda bergerak menuju ke arah saya.
    Ddduh, ada apa ini?

    Lagi-lagi saya terharu. Setibanya di depan saya, mereka semua terdiam,
    mengisyaratkan untuk mencium tangan. Ya, mereka mencium tangan saya, sambil
    berkata, “Selamat siang Pak Guru..” Ah, perkataan yang tulus yang membuat saya
    melambung. Pak guru…Pak Guru, begitu ucap mereka satu persatu. Kursi roda
    mereka berderak-derak setiap kali mereka mengayuhnya menuju ke arah saya.
    Derak-derak itu kembali membuat saya terharu, membayangkan usaha mereka untuk
    sekedar mencium tangan saya.

    Anak yang terakhir telah mencium tangan saya. Kini, tatapan saya bergerak ke
    samping, ke arah punggung anak-anak yang berjalan ke pintu keluar. Dalam diam
    saya berucap, “..selamat jalan anak-anak, selamat jalan malaikat-malaikat
    kecilku…” Saya membiarkan airmata yang menetes di sela-sela kelopak. Saya
    biarkan bulir itu jatuh, untuk melukiskan perasaan haru dan bangga saya. Bangga
    kepada perjuangan mereka, dan juga haru pada semangat yang mereka punya.

    ***

    Teman, menjadi guru bukan pekerjaan mentereng. Menjadi guru juga bukan pekerjaan
    yang gemerlap. Tak ada kerlap-kerlip lampu sorot yang memancar, juga
    pendar-pendar cahaya setiap kali guru-guru itu sedang membaktikan diri. Sebab
    mereka memang bukan para pesohor, bukan pula bintang panggung.

    Namun, ada sesuatu yang mulia disana. Pada guru lah ada kerlap-kerlip cahaya
    kebajikan dalam setiap nilai yang mereka ajarkan. Lewat guru lah memancar
    pendar-pendar sinar keikhlasan dan ketulusan pada kerja yang mereka lakukan.
    Merekalah sumber cahaya-cahaya itu, yang menyinari setiap hati anak-anak didik
    mereka.

    Dari gurulah kita belajar mengeja kata dan kalimat. Pada gurulah kita belajar
    lamat-lamat bahasa dunia. Lewat guru, kita belajar budi pekerti, belajar
    mengasah hati, dan menyelami nurani. Lewat guru pula kita mengerti tentang
    banyak hal-hal yang tak kita pahami sebelumnya. Tak berlebihankah jika kita
    menyebutnya sebagai pekerjaan yang mulia?

    Teman, jika ingin merasakan pengalaman batin yang berbeda, cobalah menjadi guru.
    Rasakan kenikmatan saat setiap anak-anak itu memanggil Anda dengan sebutan itu,
    dan biarkan mata penuh perhatian itu memenuhi hati Anda. Ada sesuatu yang
    berbeda disana. Cobalah. Rasakan.

  7. merit // August 12th, 2009 at 5:01 am

    Minta izin untuk copy yaa bos

  8. fit // August 16th, 2009 at 2:17 am

    pokoknya tambah semangat pingin jadi guru!!!

  9. ibam // August 23rd, 2009 at 6:48 am

    ijin co pas yya,,
    ha.h.a

  10. edy // August 26th, 2009 at 4:34 am

    minta izin tuk mengcopi ya mas……
    tulisanmu sangat mengharukan………harusnya semua guru juga memvac artikel ini.

  11. rakhman // September 8th, 2009 at 4:26 am

    ijin ngopi yach ^_^……
    kaarena sayapun seorang calon guru jadi kata2 tadi sangat2 memotivasi

  12. Amirsyah // September 16th, 2009 at 10:03 am

    menjadi seorang guru yang propesional dan bijak, sungguh hany sedikit dari guru, tapi guru memang pekrjaan Yang sdkt orang bisa melakoni peran menjadi guru

  13. syafridon // September 17th, 2009 at 2:46 am

    menjadi seorang guru adalah panggilan jiwa,,,,

  14. abdie // September 23rd, 2009 at 8:22 am

    ijin kopas bos :)

  15. karen // September 25th, 2009 at 2:09 pm

    ijin baca…
    kesimpulan: memang luar biasa orang-orang yang menjadi guru….perlu kita beri penghargaan setinggi-tingginya…

  16. alice // September 29th, 2009 at 12:40 pm

    Tulisan dari hati yang menyentuh hati…

  17. adhan. b // October 1st, 2009 at 7:01 am

    Artikel tentang guru, sungguh menggugah perasaan, semoga yang membacanya, terkhusus guru, dapat menjadi apa yang tertera dalam tulisan artikel guru tersebut, bahwa sanya guru bukan hanya mendidik namun juga mengajarkan, dengan penuh rasa sabar dan welas hati dlam menyampaikan pelajaran.

  18. carol // October 1st, 2009 at 8:26 am

    Ohh God.. Klo ada kesempatan ke-2, qu mau ngajar lagi… Kangen ama suara anak2 dengan sifat, tingkah laku dan keberadaan mereka….

  19. Jayadi Rakhman // October 2nd, 2009 at 11:12 am

    Memang berat menjadi seorang guru
    tidak salah disebut pahlawan tanpa tandajasa

  20. te2n // October 7th, 2009 at 12:27 pm

    Izin men-share sebagian di facebook…..

  21. waris // October 14th, 2009 at 3:44 am

    thanks so much sungguh sangat tersentuh hatiku ketika membaca perjuangan seorng guru yang kadang-kadang sering mendapatkan macian dari orang lain,,,, sukses trus tuk teman2 guru,,,,,,,,,,, bravo pendidikan maju terus indonesia

  22. rini surinche // October 16th, 2009 at 10:27 am

    sungguh artikel yg memberi semangat kpd para pengajar yang mungkin sudah kehilangan semangat dan tantangan dalam profesinya.

  23. ariz // October 29th, 2009 at 7:45 am

    izin copas y bos . . ..

  24. resty // October 30th, 2009 at 11:26 am

    subhanallah…motivasi besar buat saya untuk meneruskan cita2 saya jd guru!!trimakaSih,,…

  25. fathur rahman // November 29th, 2009 at 2:11 pm

    sebelumnya saya ucapkan kepada seluruh guru saya yg mtlah mendidik saya,, dan pada guru seluruhnya,,,
    semoga masih masih banyak guru2 yg mendidik dgn hati mereka bukan tugas semata,,, karna dari tangan2 guru semoga banyak lagi para laskar pelangi bermunculan,,,, hidup guru indonesia,, walau untuk itu mereka berjimbaku dgn peluh dan lelah,,,,

  26. ssunakin // December 6th, 2009 at 3:44 pm

    terus semagat guru-guru ku yang aku banggakan jangan terlarut arus zaman semoga budi menjadi berguna

  27. neng tya // January 4th, 2010 at 10:40 am

    q lgi ambil kul jrusan pndidkan hbis baca artikel ini terus terang q terharu bgt,tp knapa y q merasa tugas yang akan q ampu terlalu berat mungkinkah q bisa memenuhi harapan setiap putra didik q kelak …… i do no…

  28. dedi // January 8th, 2010 at 10:07 am

    Cerita Motivasi yang sangat Luar..Biasa.. dan bisa membuat kita bangga,terharu,tersentuh dan semua perasaan yg tak bisa diungkapkan untuk para guru yg telah mendidik kita. “Terima Kasih…Bapak dan Ibu Guru di manapun Berada..”

    Mas aku minta ijin untuk mempublikasikan (copas) ke blogku yah…

    thx

  29. ian // January 20th, 2010 at 9:04 pm

    Seperti kata ketua PGRI,
    Guru itu seperti daun salam… Pengharum yang membuat aroma sayur menjadi sedap, pahlawan yang membuat rasanya menjadi enak.. tetapi ketika sayur itu sudah jadi, daun salam tidak akan mungkin ikut disuguhkan, katanya gak sopan kalau menyuguhkan sayur yang ada daun salamnya, gak pantes..

  30. beta // January 22nd, 2010 at 1:04 pm

    sangat luar biasa,
    Subhanallah, sungguh pekerjaan yg mulia….
    cita2ku yg blm tercapai…
    mksh artikelnya Pak…
    izin copy ya pak…
    makasih sebelumnya.

  31. ifa // January 27th, 2010 at 11:18 am

    izin d copas yahh.. maksih banyak…

  32. sumaiyah // January 27th, 2010 at 12:38 pm

    saya yang juga berprofesi sebagai guru,merasa terobsesi untuk memberi pelajaran yang terbaik bagi anak murid.seorang guru slb ternyata jauh lebih berat tugasnya daripada saya yang mengajar anak – anak normal.itupun kadang kala saya merasa berat dan capek.apalagi disaat kesehatan saya agak terganggu.terima kasih sobat ceritamu sungguh hebat

  33. atik // January 29th, 2010 at 7:45 pm

    semangattt bu guru…!!!!

  34. Juhriyanto,S.Pd.I // January 30th, 2010 at 7:33 pm

    Artikel ini membuat hatiku semakin hidup.Karen aku pun seorang guru.

  35. amanda // February 14th, 2010 at 7:09 pm

    jadi .. , mau jdie guru deegh .. :)

  36. fenni // February 17th, 2010 at 8:07 pm

    artikelnya bagus bgt
    alhamdulillah sya dbri ksmpatan mnjdi guru.
    sya hanya bisa brusaha memberikan ilmu sebaik mungkin, dan berharap ilmu itu bermanfaat bagi murid sya spanjang masa ny.

  37. cece // March 9th, 2010 at 10:25 am

    artikel yang sangat mengharukan….
    sekarang ini saya berusaha menjadi seorang guru yang baik di depan murid-murid saya, karna saya tahu bahwa saya tidak akan pernah menjadi orang yang sempurna di depannya. tapi senyum yang diberikan oleh murid-murid saya, membuat saya tahu bahwa saya adalah lentera mereka, saya adalah tongkat mereka, saya adalah gambaran masa depan mereka. untuk itu saya akan tetap berusaha menjadikan impian mereka menjadi kenyataan… walau terkadang saya harus terjatuh….

  38. Mahfudin // April 1st, 2010 at 11:32 am

    ya, menjadi guru kalau “benar-benar guru” itu cukup berat dan mulia, karena tugas guru adalah ada dua yaitu mengajar dan mendidik. Kalau mengajar gampang, semua orang bisa, tetapi tugas guru yg berat adalah “mendidik”, karena tidak semua orang/guru mampu mendidik.
    Kalau mengajar sasarannya adalah otak, dari siswa tidak bisa matematika, jadi bisa, dari tidak bisa bahasa inggris jadi bisa, dst. Itu semau dari hasil belajar.
    Sedangkan kalau mendidik sasarannya adalah “hati”. Hasil pendidikan bisa dilihat dari sikap, moral atau akhlaknya. Untuk membentuk sikap yang baik ini sangat berat, perlu contoh suri tauladan dari guru dan harus selalu dikontrol dan selalu diingatkan.
    Seorang guru jangankan untuk mendidik sekian banyak siswa, mendidik satu orang yaitu dirinya sendiri sangat berat,yaitu harus selalu menjadi suri tauladan untuk siswa-siswanya. Tetapi bagi “yang benar-benar guru” hal ini harus selalu dilakukan. Oleh karenanya menjadi guru itu sangat berat tetapi mulia.
    Saya prihatin sekali dengan dihilangkannya istilah “IKIP”. Karena kepanjangan IKIP adalah “Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan”. Keguruannya menjadi guru yg fungsinya “Mengajar” sedangkan Pendidikannya itu berfungsi untuk menjadi seorang “Mendidik”.
    Wajar sekarang bangsa ini makin berantakan saja, karena sudah tidak/kurang pendidikan lagi. Korupsi merajalela hampir di semua bidang!!!

  39. Erlin // April 6th, 2010 at 10:47 pm

    Crt diatas mmang sgt bnar, it mggambrkan ttg dri sy, sy jg adalah slah satu guru yg mgajar pd skolah dgn ank2 yg trlhir “istimewa” tp sy bangga mskipun bnyk yg mencibir profesi sy,krn sy tau apa yg sy lakukan sngatlah mulia. Thnx buat artikelx it smakin mnambh motifasi untk sy..

  40. Fauzan // April 8th, 2010 at 2:53 pm

    Subhanallah…
    Mengharukan..sungguh >>

    izin di copas, buat dibagiin keteman-teman yang lain

    T_T

  41. sunarto // April 24th, 2010 at 7:25 pm

    Betul betul betul, hanya hatilah yang bisa menyentuh hati

  42. anna // May 25th, 2010 at 3:29 pm

    bener bgt tuhhhh…..makasih untuk para guru2ku yg tlah membuat aq mengenal dunia

    aq ingin mengikuti jejak langkahmu
    aq ingin menjadi guru yg bisa mencetak generasi penerus yg berakhlak dan budi pekerti

  43. made // June 4th, 2010 at 10:53 am

    sungguh .. artikel ini benar-benar membuat saya menangis . karena saat ini saya sebagai seorang murid, merasa bahwa kebanyakanm guru hanya menginginkan nama dari murid-muridnya . mereka hanya menginginkan murid-muridnya mendapat nilai yang baik , bukannya prestasi [kepintaran]. karena apabila nilai anak didiknya bagus, maka guru lain dan kepala sekolah akan bangga kepadanya . maap, bila saya menyinggung . tapi itu yang saya rasakan . semoga semua guru yang ada diseluruh dunia memiliki hati yang sama seperti cerita diaatas . cheers .. :]

  44. maria // June 4th, 2010 at 1:32 pm

    sungguh .. artikel ini benar-benar membuat saya menangis . karena saat ini saya sebagai seorang murid, merasa bahwa kebanyakanm guru hanya menginginkan nama dari murid-muridnya . mereka hanya menginginkan murid-muridnya mendapat nilai yang baik , bukannya prestasi [kepintaran]. karena apabila nilai anak didiknya bagus, maka guru lain dan kepala sekolah akan bangga kepadanya . maap, bila saya menyinggung . tapi itu yang saya rasakan . semoga semua guru yang ada diseluruh dunia memiliki hati yang sama seperti cerita diaatas . cheers .. :]

  45. Deni Indrawan // June 14th, 2010 at 4:19 pm

    Sangat menyentuh dan berkesan. Kebanyakan orang menilai dan mencita-citakan profesi yang menghasilkan pendapatan sangat besar.
    Kadang-kadang dan sering dianggap setengah hati. Namun jika direnungkan, sebenarnya semua orang yg ada sedang berhutang pada seorang guru.

  46. nickz // June 28th, 2010 at 3:03 pm

    teman..sekarang guru gajinya besar kok…..kerjanya juga cuman beberapa jam aja…..

  47. windah // July 29th, 2010 at 7:47 pm

    jadi guru emang nggak susah

  48. Hariz // September 12th, 2010 at 9:55 am

    Alhamdulillah masih ada yang sadar dan menaruh perhatian cukup besar pada pekerjaan yang mulia ini.
    Namun tidak cukup dengan sebuah perhatian, kita seharusnya juga melakukan tindakan untuk guru.
    khususnya teknik pengajaran yang diberlakukan oleh guru-guru pada sekolah umumnya. Mereka terkesan hanya melakukan sebuah pengajaran dan pen”didik”annya yang bersifa secara “ala kadarnya”.
    berbeda sekali dengan guru-guru yang mengajar di bimbinbgan belajar diluar sekolah, mereka terkenal dan tercatat sebagai guru yang cukup atraktif, sehingga pelajaran yang diterima oleh murid dapat dicerna dengan baiki.
    Maka dari itu saya sebagai salah satu murid SMA, memohon dengan sangat agar kinerja guru-guru disekolah ditingkatkan. Bila perlu setiap bulan diadakan workshop untuk guru-guru tercinta..
    Makasih ya Pak, Bu..Guru anda memang yang terbaik !!

  49. Kuntum // September 17th, 2010 at 1:22 pm

    SubhanaAllah sangat bagus sekali kisah ini, moga menjadi semangat baru bagi saya. Ijin Share ya

  50. Dion // October 2nd, 2010 at 5:11 pm

    PAK ijin mengkopi…. mungkin akan say masukan sebgai refersi di buku saya.

    salam
    dion

  51. widiya ayu // October 12th, 2010 at 1:31 pm

    kata-katanya subhanallah luar biasa dahsyat. saat ini saya sedang menjalankan studi di fakultas keguruan. saya terinspirasi dan termotivasi untuk menjadi guru yang profesional, mencerdaskan generasi penerus bangsa. Insyaallah.. amin

  52. prastyo // October 28th, 2010 at 7:54 pm

    apabila seorang pendidik ikhlas di jalan Allah mengarahkan anak-anak pada kebaikan, akhlak yang baik maka dia akan mendapatkan kebaikan didunia dan akhirat

  53. ibnufajar75 // November 6th, 2010 at 8:05 pm

    Wah jadi trenyuk nih bagi kami-kami yang berprofesi guru makasih ya …

  54. Panji Ridho // December 7th, 2010 at 8:32 am

    Menjadi guru di era sekarang adalah tantangan, perjuangan, betapa tidak sudah banyak pergeseran nilai yang terjadi…Coba lihat anak-anak sekolah dasar,tanya mereka Apa cita-cita mereka?dengan kepolosannya mereka berkata pengen jadi artis…Mereka lebih hafal lagunya Ungu, ketimbang Indonesia Raya, Mereka lebih senang facebookan dibandingkan mencari ilmu di internet. Apakah yang salah mereka atau adakah yang salah dengan pendidikan kita?
    Berapa banyak orang tua yang menyandarkan sepenuhnya pendidikan anaknya di sekolah? Pendidikan adalah tanggung jawab kita semua, guru, orang tua,pemerintah…
    Sungguh profesi guru adalah profesi yang sangat mulia, tidak ada materi apapun yang dapat menukar jasa seorang guru, karena ditangan mereka karakater bangsa ini akan terbentuk…
    Semoga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar! Berbahagialah dan banggalah anda jika memilih menjadi seorang “Guru”.

  55. sintha kusuma wardhani // December 25th, 2010 at 7:42 pm

    alhamdulillah saya sedang menuju perjalanan untuk menjadi seorang guru….semoga saya bisa menjadi guru sesungguhnya

  56. leo // January 28th, 2011 at 1:26 pm

    mengharukan…

  57. khoerudin // February 9th, 2011 at 8:20 am

    ijin ngopi ya boss, saya tampilkan di blog saya, semoga semakin banyak orang yang baca & semoga banyak memberi manfaat.
    terima kasih banyak boss.

  58. adel // March 11th, 2011 at 10:05 pm

    tulisan ini benar2 membangkitkan smangt ku dalam mengajar anak2. walaupun tak dibayar tapi pengalaman yang saya dapat dari mengajar telah melebihi apapun… thanks

  59. faisalmidfild // April 7th, 2011 at 5:00 pm

    wah… banyak juga bapak ibu guru yg komen…

    mampir yaw schoolash.blogspot.com

Trackbacks Motivasi

  1. sukismanstmikpsw
Leave a Comment for Guru dan Semangatnya Tags: , , ,

*

Related Guru dan Semangatnya

Kenangan

Sejenak mari kita berjalan mundur, kembali ke 6 tahun yang lalu.  Dari tahun

Teknik Karet Gelang Merah

Teknik sederhana ini saya pelajari dari Robert G. Allen, milyuner dari New York

Apa Kamu Bisa?

Dulu, Dulu banget… saat saya baru duduk di bangku kelas 1 SMU,  ada

Knowledge Is Beautiful

Reading, fascinated me More reading,  more I know my flaw “A way of

Lihat Juga Cerita Motivasi Menarik Lainnya

Live with Passion (Reprise) – Success Music

do, do, do-dodo dodo, do, do do-dodo well the day is gone and I’m moving on from the endless lessons that teach me to keep strong satisfaction overwhelms me and I’m proud to see all that I can be the change inside of me there’s one thing above all else that has led me to [...]

Tuesday, July 8th, 2008 | Kata Motivasi, Lagu Motivasi

Usia Adalah Rahasia Tuhan

Berapa seringkah kita mengantar mayat ke kubur? Berapa seringkah kita menyolatkan jenazah? Mungkin kita sudah sering, bahkan sangat sering. Entah itu tetangga kita, sahabat kita ataupun orang tua kita. Sahabat, Idul fitri kemarin adalah hari yang begitu istimewa. Tidak hanya untuk orang yang telah berhasil melewati ramadhan. Tetapi juga untuk jenazah-jenazah yang dipanggil untuk dikembalikan. [...]

Monday, October 6th, 2008 | Artikel Motivasi

Menjadi Pemenang dalam Pertarungan

Si Anto tak bisa melihat si Budi dengan kasat mata, sedangkan si Budi

Jika Hati Masih Sering Risau, Maka Hati itu Belum Bisa Melihat Allah

Suara merdu hanya bisa diketahui memakai telinga, bukan mulut. Hehe… Ya iya lah.

Perjalanan

Dalam hidup ini banyak peristiwa yang dihadapi. langkah yang diambil pun sesuai dengan

34-Siapa yang Tak Mati?

Suatu ketika ada seorang janda yang sangat berduka karena anak satu-satunya mati. Sembari

Bagaimana Mengemas Hidup

Bagi sebagian orang pemasaran identik dengan sales/tenaga penjual. Apabila mendengar kata pemasaran, pikiran langsung melayang pada sosok sales, membawa barang dagangan di kanan kiri motor, menawarkan produk sana sini, dikejar-kejar target,wuah, pasti dalam hati langsung berkata “No!!!!masa sekolah tinggi-tinggi hanya jadi sales”. Hal ini didukung dengan para orang tua yang menanamkan bahwa pendidikan yang diberikan [...]

Saturday, October 30th, 2010 | Artikel Motivasi, Sosok Motivasi

Anda Lebih Penting Dari Masalah Anda

Proses pertumbuhan dan belajar selalu melibatkan resiko. Keberanian memberi anda kekuatan untuk menghadapi kesulitan-kesulitan. Keberanian berasal dari pikiran anda yang jauh lebih bertenaga daripada lingkungan luar anda. Bila anda menyadari bahwa betapa besarnya anda dibanding persoalan yang ada, maka anda akan mendapatkan keberanian untuk mengatasinya.Rintangan akan selalu tampak besar atau kecil sesuai dengan penglihatan anda. [...]

Wednesday, March 25th, 2009 | Kata Motivasi

Memelihara Mimpi

Sebelum sebatang pohon dapat tumbuh tinggi, terlebih dahulu ia harus menanamkan akarnya jauh ke dalam tanah, demi memperoleh zat gizi. Sama dengan mimpi anda. Bila anda ingin impian berubah menjadi kenyataan, anda harus mencari cara untuk memberi makan dan memelihara mimpi anda. Sangat tidak realistis untuk berharap bahwa anda dapat mencapai bintang, tanpa terlebih dahulu [...]

Sunday, June 27th, 2010 | Artikel Motivasi, Kata Motivasi, Tips Motivasi

Guru dan Semangatnya

Menjadi guru, bukanlah pekerjaan mudah. Didalamnya, dituntut pengabdian, dan juga ketekunan. Harus ada pula kesabaran, dan welas asih dalam menyampaikan pelajaran. Sebab, sejatinya, guru bukan hanya mendidik, tapi juga mengajarkan. Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menjalankannya. Menjadi guru juga bukan sesuatu yang gampang. Apalagi, menjadi guru bagi anak-anak yang mempunyai “keistimewaan”. Dan saya, merasa [...]

Monday, June 29th, 2009 | Artikel Motivasi, Cerita Motivasi, Sosok Motivasi

Lampu Merah dan Kesedihan

Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau. Jack segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu perempatan di situ cukup padat sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama. Kebetulan jalan di depannya agak lenggang. Lampu berganti kuning. Hati Jack berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter [...]

Friday, November 21st, 2008 | Cerita Motivasi