Home » Cerita Motivasi » 9-Kesunyian Pohon Cemara

9-Kesunyian Pohon Cemara

Cerita Motivasi

pohon sunyiSEORANG anak kecil berumur empat tahun menarik-narik tangan ayahnya untuk dibelikan pohon natal besar yang berdiri tegak di sebuah supermarket.

“AKU mau ini.”
“Jangan, sayang. Itu tidak dijual.”
“Kok di situ?”
“Untuk hiasan. Kita nonton saja sebentar. Itu tidak dijual.”
Seperti malaikat, seorang pelayan dengan seragam penuh aksesori Natal tiba-tiba sudah berdiri di samping sang anak.

“Ini tidak dijual, Adik,” sambil memandang pohon natal. Sambil mengambil kardus panjang berwarna putih, ia tersenyum sambil menawarkan, “Kalau ini boleh, tingginya 60 cm, juga pakai lampu. Boneka Sinterklas itu juga boleh.”

Dengan pandangan setengah menggugat, anak itu menarik tangan ayahnya agar mendekat pada “malaikat” supermarket itu.

“Baik, ambil satu,” kata sang ayah sambil mengusap punggung anaknya.

Sesampai di rumah, si kecil tidak sabar mengeluarkan seluruh isi kardus pohon Natal bertuliskan “Decorated Table Tree” itu: satu set pohon cemara superfisial yang terbuat dari kawat dan potongan-potongan kain hijau, satu set lampu hias, hiasan bola-bola salju, dan tiga atau empat bintang berwarna kuning keemasan. Sambil berbisik “wi wis yu, e meri krimet” (maksudnya we wish you a merry Christmas), ia sibuk membantu ayahnya merangkai pohon natal.

Supaya lebih meriah, sang ayah memasukkan kaset natal ke dalam tape. Satu per satu anggota keluarga bermunculan mendekati “huru-hara” yang tiba-tiba itu. Tiba-tiba ia berhenti di sudut ruangan menghampiri kotak besar yang sedikit berdebu. Puluhan boneka yang sudah lama disimpan di kotak dikeluarkan. Patung Bunda Maria yang sudah retak pun dipasang tidak jauh dari pohon natal. Sinterklas berwarna putih-merah ditaruh di baris paling depan, seperti patung Betara Kala sang penjaga.

POHON cemara, kaset Malam Kudus, boneka Sinterklas, adalah beberapa bahan pokok dalam perayaan Natal. Mudahnya mendapatkan pohon natal di supermarket menjauhkan keinginan anak untuk melihat “kerja bakti” membuat pohon natal di gereja. Banyaknya kaset menjauhkan keinginan anak untuk “nonton” latihan koor persiapan Natal. Murahnya boneka Sinterklas mengakrabkan anak-anak dengan simbol-simbol Natal di tempat lain (yang sebelumnya hampir tidak dikenal di Indonesia).

Untuk mengingatkan bahwa sekarang ini Natal, rasanya lebih mudah pergi ke supermarket daripada pergi ke gereja atau tempat-tempat latihan koor (yang semakin sulit dicari anggotanya!). Semakin banyak memborong atribut-atribut Natal rasanya kita semakin berhasil menghadirkan Natal.

Membeli rasanya seperti beribadat. Tidak membeli sepertinya tidak menghormati Natal. Memang, menjelang perayaan Natal pusat-pusat belanja menjadi semacam sanctuaria untuk memproduksi dan mengonsumsi berbagai atribut atas nama Natal atau, persisnya, bentuk-bentuk simbolik budaya pop Natal. Sebagai bentuk, atribut-atribut itu siap kita pakai sesuai dengan kepentingan kita (dari bisnis, keagamaan, pergaulan, sampai dengan gengsi). Bentuk-bentuk itu bersifat simbolik karena semuanya mengatasi nilai fungsionalnya.

Pohon natal yang semula berdiri di gereja untuk kepentingan upacara misa atau kebaktian, kini berdiri di rumah-rumah, di supermarket, dan di tempat-tempat publik seperti kantor dan rumah sakit dengan fungsinya masing-masing. Topi berjambul yang dikenakan pada kakek Sinterklas bisa juga dipakai untuk seragam sekelompok anak muda untuk pesta Natal maupun Tahun Baru.

Bentuk-bentuk simbolik itu juga memiliki karakter budaya pop dalam arti menduduki posisi komoditas dalam sebuah perekonomian kapitalis. Komoditas tersebut menjadi impian siapa saja yang ingin hadir sekarang dan di sini, yaitu saat Natal. Tanpa pohon natal seakan kita tidak natalan seperti halnya tanpa sampo rambut seakan rambut kita penuh ketombe. Anehnya, pohon cemara yang ditanam di depan rumah tiba-tiba menjadi kurang afdal daripada pohon cemara artifisial itu! Status aksesori Natal sebagai komoditas ternyata bukan hanya memperluas para pengguna aksesori (dengan berbagai kekuatan promosionalnya) melainkan juga memasukkan unsur baru, yaitu membeli. Kenikmatan membeli bercampur baur dengan kekhusukan berbakti, kenikmatan mengonsumsi bercampur baur dengan kenikmatan promosi dan gengsi.

BEGITULAH Natal masuk dalam logika budaya pop Natal. Gloria in excelsis Deo (Kemuliaan pada Allah di surga) seakan habis dimaterialisasikan dalam gemerlapan lampu-lampu indah dan rumbai-rumbai pintu yang menghiasi pusat-pusat perbelanjaan. Kita seakan tidak lagi mendapatkan kesempatan untuk memilih cara lain untuk merayakan Natal di luar cara yang dijualbelikan. Kalau toh ada, perayaan kita rasanya belum komplet kalau belum dilengkapi dengan berbagai aksesori yang ada (entah karena keterbatasan ekonomi maupun keterbatasan keyakinan untuk mengonsumsinya!). Poros Natal dari rumah ke gereja digeser oleh poros dari rumah ke pusat belanja.

Apakah dengan demikian kita kehilangan kesempatan untuk mengalami Natal kita sendiri? Belum tentu. Sebagai bentuk-bentuk simbolik, atribut-atribut Natal bebas kita pakai untuk menggubah cerita Natal kita sendiri. Kisah Natal adalah kisah tentang pengalaman keterbatasan sekaligus kebebasan manusia. Kisah Natal pasti bukan kisah tentang pohon natal bersalju yang tidak pernah kita lihat wujud aslinya, juga bukan kisah tentang tokoh mistis Sinterklas yang barang kali tidak pernah kita dengar sejarahnya, juga bukan kisah tentang lagu Malam Kudus yang kita nyanyikan dengan empat suara. Perayaan Natal di negeri lain menghasilkan pohon natal, bukan sebaliknya; perayaan Natal anak-anak di negeri lain menghasilkan kisah tentang Sinterklas, bukan sebaliknya; pengalaman Natal juga menghasilkan lagu Malam Sunyi yang terkenal itu.

Orang bilang, salah satu ciri pengalaman konsumsi zaman sekarang adalah ephemeral, sesaat, cepat berlalu, minta konsumsi lagi dan lagi. Pengalaman ini barangkali juga kita alami saat membeli pohon natal. Hanya dalam dua atau tiga hari, pohon natal mungkin saja berdiri kesepian di pojok ruang, bisu tidak bisa bicara karena sudah menjauh dari pengalaman nikmat membeli.

Jangan-jangan kesunyian pasca-konsumsi ini yang paling dekat dengan ungkapan “malam sunyi” yang kita nyanyikan. Orang butuh pengalaman lain yang pantas dikenang, yang pantas menghias kehidupan, yang tidak hanya mengalir dari pengalaman pembelian, melainkan dilakukan bersama orang lain, yang tidak muncul dari menyaksikan (voyeuristic) melainkan kesaksian.

Kita pertama-tama tidak butuh popular culture yang diproduksi oleh satu mesin ideologi konsumsi massa, melainkan culture of the people dengan berbagai ragamnya, bukan popular culture yang senantiasa minta disaksikan melainkan culture of the people yang menuntut kesaksian, bukan popular culture yang kita capai lewat konsumsi (sendirian) melainkan culture of the people yang kita ciptakan bersama orang lain. (*)

Sumber: Kesunyian Pohon Cemara oleh St Sunardi

Pencarian

,,cerita natal (1448),kisah natal (225),kumpulan cerita natal (87),cerita tentang natal (86),pohon cemara (73),cerita natal untuk anak (72),motivasi natal (54),kisah natal anak (49),nama lain pohon cemara (45),kesunyian (37),puisi tentang pohon cemara (33),cerita natal untuk anak-anak (32),cerita natal anak-anak (26),cerita motivasi natal (24),cerita natal anak anak (22)

Comments for 9-Kesunyian Pohon Cemara
  1. celpjefscycle // January 12th, 2008 at 8:32 am

    Thanks for information.
    many interesting things
    Celpjefscylc

  2. Tika Keifm // March 17th, 2008 at 3:42 am

    mengaharukan untuk direnungkan…… di pekan suci.. (maaf karena bacanya pas pekan suci)

  3. Erwandi // March 21st, 2008 at 4:36 am

    jelek

  4. Ibeth // December 18th, 2008 at 8:03 am

    Amazing

  5. Maz Rafieq // August 5th, 2009 at 3:53 am

    Kalo bisa gambarnya yang berformat gif donk….lebih enak di pandang!

  6. Maz Rafieq // August 5th, 2009 at 4:03 am

    Huuuuuhhh!

  7. jabon // September 19th, 2010 at 9:32 pm

    mampir nich..
    salam…… :)

Leave a Comment for 9-Kesunyian Pohon Cemara

*

Related 9-Kesunyian Pohon Cemara

Thank You - Terima kasih

To those of you who have pushed me, thank you. Without you I

Menuju Kemakmuran Selanju

Memang sangat menyedihkan bila mendengar tentang nasib orang yang menyerah di tengah jalan

28-Update 2X dalam 1 Ming

Melihat rutinitas yang semakin padat pada tiap anggota resensinet Tim, maka sekedar informasi

Ingin sukses berbisnis? J

Menjadi seorang pengusaha bukan hal yang mudah. Selain skill, anda perlu memiliki mental

Lihat Juga Cerita Motivasi Menarik Lainnya

Manusia Bukan Kesulitan

Saat kesulitan menghampiri, tatap dia. Terus tatap, bila perlu ‘pelototin’ dia. Majukan langkah hingga terlihat jelas “wajah”nya, dan berucaplah dengan nada keras padanya, “Hei kesulitan! Kau bukan masalah bagiku. Tak sedikitpun aku gentar menghadapimu. Aku bukan dirimu. Aku lebih mulia darimu. Tak sedikitpun dirimu mampu mempengaruhiku hingga hilang kemuliaanku karenamu. Aku adalah Aku. Aku bukan [...]

Friday, May 11th, 2012 | Artikel Motivasi, Kata Motivasi, Pengembangan Diri, Tips Motivasi

Yuk.. Optimalkan Diri..

Dikisahkan di suatu tempat di negeri cina, hidup seorang pengemis tua yang sangat sengsara dalam hidupnya. Setiap hari pekerjaanya mengemis dan hasilnya hanya cukup untuk makan dirinya bahkan sering hanya makan satu kali dalam sehari. Seorang dokter setiap hari melewati pengemis tersebut dan sering memberi uang logam kepada pengemis tua tersebut. Sering terpikir oleh pengemis [...]

Thursday, October 20th, 2011 | Artikel Motivasi, Cerita Motivasi

Knowledge Is Beautiful

Reading, fascinated me More reading,  more I know my flaw “A way of

Guru bijak

Mungkin dari kita saat ini masih banyak yang merasa sebagai orang yang “wah”

Si Tukang Kayu dan Rumahnya

Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real

20-Semangat Mbah Sarwi

Kukenal Mbah Sarwi sebagai pedagang sayur di Pasar Minggu.Aku memang sering berbelanja sayur

Mr. Alasan, Penghambat Sukses

Sembilan puluh sembilan persen dari semua kegagalan berasal dari orang-orang yang punya kebiasaan berdalih GEORGE WASHINGTON CARVER Ahli Kimia yang menemukan lebih dari 325 manfaat kacang tanah Kalau mau jujur, kita sering menciptakan alasan atas setiap kegagalan dan kesalahan yang kita lakukan. Sebagai contoh, pada waktu kita terlambat ke sekolah atau ke kantor, pikiran kita [...]

Saturday, March 7th, 2009 | Sosok Motivasi

Manisnya Positive Thingking

Bos tidak biasanya menyapa dengan hangat dan begitu ramahnya. Apa yang terjadi?? Hanya tebaran seyum yang saya bisa berikan. Dengan nada lembut tanpa menggertak, bos memberikan arahan, alunan informasi tanpa paksaan dan menyudutkan “Kamu di berikan kesempatan untuk bisa proven di bisnis baru” Hanya kata siap yang saya lontarkan. Walau saya tau tempat baru sangat [...]

Monday, March 26th, 2012 | Artikel Motivasi, Cerita Motivasi, Motivasi Islami, Pengembangan Diri, Sosok Motivasi, Suara Hati

Guru bijak

Mungkin dari kita saat ini masih banyak yang merasa sebagai orang yang “wah” dan Merasa Sebagai orang yang paling bersih dan Hanya sedikit dosa. Jujur Tanyakan Pada hati anda tentang pendapat anda terhadap mereka yang bergelimang dosa? Saya yakin sebagian Dari Kita akan memandang sebelah mata kepada mereka, Menganggap mereka adalah orang-orang kotor dan Saya [...]

Wednesday, October 12th, 2011 | Artikel Motivasi, Cerita Motivasi, Sosok Motivasi

Bicara Dengan Bahasa Hati

Tak ada musuh yang tak dapat ditaklukkan oleh cinta. Tak ada penyakit yang tak dapat disembuhkan oleh kasih sayang. Tak ada permusuhan yang tak dapat dimaafkan oleh ketulusan. Tak ada kesulitan yang tak dapat dipecahkan oleh ketekunan. Tak ada batu keras yang tak dapat dipecahkan oleh kesabaran. Semua itu haruslah berasal dari hati anda. Bicaralah [...]

Monday, October 27th, 2008 | Kata Motivasi

10 Kualitas Pribadi yang Disukai

Ketulusan Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura- pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya “Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak”. Tentu akan lebih [...]

Tuesday, October 21st, 2008 | Artikel Motivasi, Tips Motivasi