38-Ketelitian
Assalamualaikum wr wb
Di sebuah ruang kuliah, seorang profesor kedokteran memberikan kuliah perdananya. Para mahasiswa baru itu tampak serius. Mata mereka terpaku menatap profesor, seraya tangan sibuk mencatat.
“Menjadi dokter, butuh keberanian dan ketelitian,” terdengar suara sang profesor. “Dan saya harap kalian dapat membuktikannya.” Bapak itu beranjak ke samping. “Saya punya setoples cairan limpa manusia yang telah direndam selama 3 bulan.” Profesor itu mencelupkan jari ke dalam toples, dan memasukkan jari itu ke mulutnya. Terdengar teriak-teriak kecil dari mahasiswa itu. Mereka terlihat jijik. “Itulah yang kusebut dengan keberanian dan ketelitian,” ucap profesor lebih meyakinkan.
“Saya butuh satu orang yang bisa berbuat seperti saya. Buktikan bahwa kalian ingin menjadi dokter.” Suasana aula mendadak senyap. Mereka bingung: antara jijik dan tantangan sebagai calon dokter. Tak ada yang mengangkat tangan. Sang profesor berkata lagi, “Tak adakah yang bisa membuktikan kepada saya? Mana keberanian dan ketelitian kalian?â€
Tiba-tiba, seorang anak muda mengangkat tangan. “Ah, akhirnya ada juga yang berani. Tunjukkan pada teman-temanmu bahwa kau punya keberanian dan ketelitian.†Anak muda itu menuruni tangga, menuju mimbar tempat sang professor berada. Dihampirinya stoples itu dengan ragu-ragu. Wajahnya tegang, dan perasaan jijik terlihat dari air mukanya.
Ia mulai memasukkan jarinya ke dalam toples. Kepala menoleh ke samping dengan mata yang menutup. Teriakan kecil rasa jijik kembali terdengar. Perlahan, dimasukkannya jari yang telah tercelup lendir itu ke mulutnya. Banyak orang yang menutup mata, banyak pula yang berlari menuju kamar kecil. Sang professor tersenyum. Anak muda itu tersenyum kecut, sambil meludah-ludah ke samping.
“Aha, kamu telah membuktikan satu hal, anak muda. Seorang calon dokter memang harus berani. Tapi sayang, dokter juga butuh ketelitian.” Profesor itu menepuk punggung si mahasiswa. “Tidakkah kau lihat, aku tadi memasukkan telunjuk ke toples, tapi jari tengah yang masuk ke mulut. Seorang dokter memang butuh keberanian, tapi lebih butuh lagi ketelitian.”
***
Tantangan hidup, kadangkala bukan untuk menghadapi kematian. Tapi, justru bagaimana menjalani kehidupan. Banyak orang yang takut mati. Tapi, tidak sedikit yang memilih mati ketimbang hidup. Banyak yang menghabisi hidup pada jalan-jalan tercela. Banyak pula yang enggan hidup hanya karena beratnya beban kehidupan.
Ujaran profesor itu memang benar. Tantangan menjadi seorang dokter-dan sesungguhnya, menjadi manusia-adalah dibutuhkannya keberanian dan ketelitian.
Bahkan, tantangan itu lebih dari sekadar mencicipi rasa cairan limpa di toples. Lebih berat. Jauh lebih berat. Dalam kehidupan, apa yang kita alami kadang lebih pahit dan menegangkan. Namun, bagi yang teliti, semua bisa jadi manis, menjadi tantangan yang mengasyikkan. Di sanalah ditemukan semua rasa, rupa dan suasana yang mendidik. Dan mereka dapat dengan teliti memilah dan memilih.
Teman, hati-hatilah. Hidup memang butuh keberanian. Tapi, akan lebih butuh ketelitian. Cermati langkahmu, waspadai tindakanmu. Hati-hati saat “mencelupkan jari” dalam toples kehidupan. Kalau tidak, “rasa pahit” yang akan kita temukan.
Terima kasih telah membaca. Hope you are well and please do take care
Wassalamualaikum wr wb
Pencarian
,,ketelitian (257),cerita tentang ketelitian (57),cerita orang teliti (21),apa yang dimaksud ketelitian (17),artikel ketelitian (17),artikel tentang ketelitian (15),cerita tentang teliti (13),cerita orang yang teliti (11),cerita ketelitian (9),cerita tentang orang yang teliti (6),contoh cerita orang yang teliti (6),bahan sharing dikantor (5),kisah orang yang teliti (5),cerita motivasi mahasiswa kedokteran (4),kisah tentang ketelitian (4)|
|
Tanggapan Anda
Berikan tanggapan atas artikel/cerita motivasi di atas. Komentar saran dan kritik Anda merupakan bahan bakar kami untuk menjadi lebih baik. Terima Kasih10 Tanggapan Pada Artikel/Cerita 38-Ketelitian Diatas
Tinggalkan Komentar anda di 38-Ketelitian







Assalamu’aikum wr.wb. keberanian yang tidak dilandasi ketelitian akan membuat kecerobohan, dan ketika orang hanya mengandalkan keberanian saja maka hidupnya akan terpontang-panting seperti kita punya perahu tapi kita tidak mempunyai dayung hidup yang seimbang adalah perpaduan antara keberanian dan ketelitian.
apabila kita teliti maka sekecil appun yang akan dihadapi akan di persiapkan.
assss
fff
sungguh menggugah…pencerahan di balik setiap peristiwa hidup…di balik kesulitan pasti ada kemudahan…karena memang akan tertunjuk jalan ketika berani untuk bergerak…chayo…i like ur stori
Cerita bagus, bisa buat bahan sharing di kantor, trims !
Asskum. Wouw sungguh merasuk dalam hati saya. Anda begitu hebat dapat menulis artikel sehebat ini. Saya sungguh tersentuh oleh isi artikel dan pesan Anda dalam artikel ini. Terima kasih Anda sudah memberi motivasi saya untuk meraih masa depan
benar2 mengesankan , bnr bhw hdup bs kt jalani jk kita teliti dlm memperhatikan lingkungan sekitar
saya suka cerita ini….
sangat bermanfaat…
tapi saya mau bertanya:
bagaimana saya bisa mendapatkan ketelitian itu..?sebenarnya saaya orang yang sangat ceroboh, dan terkadang akhirnya saya suka menyesali kecerobohan saya…
mohon motivasinya…
tq^^
Menurut Kami;
Keberanian adalah langkah awal sebelum seseorang menjadi individu yang teliti.
Tidak mungkin orang bisa teliti jika mereka tidak melakukan apapun.
Ketelitian berjalan dibutuhkan niat dan motivasi kuat dari setiap individu. Diakhiri dengan konsistenitas agar dapat tetap terjaga.
*) Boleh kami dibagi Daily Motivasinya. Thx
saya salut dengan mahasiswa yang berani maju tadi
betul betul pemberani ketika yang lain mjd pecundang
tidak hanya dokter, apapun profesi anda kita tetap butuh keberanian dan ketelitian