<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Kirim Artikel</title>
	<atom:link href="http://www.resensi.net/kirim-artikel/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.resensi.net</link>
	<description>Kumpulan cerita motivasi, cerita penyemangat, cerita untuk melihat kedalam diri dalam proses perbaikan dan pembelajaran diri maupun artikel motivasi</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 13:32:48 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<item>
		<title>By: muamar</title>
		<link>http://www.resensi.net/kirim-artikel/comment-page-2/#comment-42762</link>
		<dc:creator>muamar</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 Jan 2011 03:40:23 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://resensi.net/kirim-artikel/#comment-42762</guid>
		<description>PERJALANAN HIDUPKU
Pagi yang cerah, aku duduk dimuka computer tempat kerjaku, ditemani secangkir kopi susu yang manis, ku mulai membuka lembaran hidup baruku dihari itu. Tapi saat itu teringatlah cibiran orang yang membuat terpaku  pada diriku, karena pada saat itu aku menghasilkan uang sedikit dari kerjaku, dan ada yang menawarkan pekerjaan untuk mengangkut pasir, tapi kupikir pekerjaan itu sangat berat, karena begitu banyak energi yang terbuang yang menghasilkan uang yang sedikit, Yang akhirnya pekerjaan itu kutolak. Karena bagiku pekerjaanku merupakan awal dari sebuah kesuksesanku, dan aku harus belajar dari fasilitas yang ada, yang akhirnya aku dikatakan pemalas, tapi semua itu kuhadapai dengan rendah hati dan besar jiwa, dan apapun mereka bilang aku tak peduli, karena tekatku takkan hilang, kurasa jalan hidupku masih panjang.
Pada saat itu ku coba untuk meratapi hidup ku , tapi kurasa tidak ada gunanya untuk meratapinya, karena hanya terjerumus kedalam kerendahan hati dan kekecilan jiwa, yang akhirnya mnyiakan waktu yang ada. Biarpun orang berkata apa, semua itu kujadikan pelajaran pada diriku agar tidak bersifat angkuh, dan ku coba lemaskan tangan yang pegal berpangku, dan kupegang erat prinsif hidupku. Yaitu: “percaya diri adalah cara untuk meraih sukses, kesuksesan berasal dari kemauan yang kuat, kemauan yang kuat didasari iman dan akhlak yang kuat”. Lalu terpikir dalam hatiku diatas langit masih ada langit, maka paradikmaku meledak yang menciptakan bemangat, dan rasa sakit hatiku tersadar dari impianku, bagai bantuan tersambar tamparan dipipi.
Setelah ku tersadar dari impianku, aku sadar bahwa terdapat kapasitas dan potensi yang berdimensi begitu besar dalam diriku, kulalui proses demi proses dalam hidupku. Sejarah mulai terukir dalam kisah perjalananku, Kucoba untuk bangkit dari ketertinggalanku, kumasuki realita kehidupan baruku, karena masih banyak celah jembatan sukses yang harus kututup. Waktu tak menunggu, semua itu harus kubuktikan  bahwa diriku pantas, aku akan bermain cantik dengan memainkan taktik dalam praktik, dengan modal talenta, waktu, dan kejujuran itupun tak cukup, aku sadar kesuksesan bukanlah tujuan akhir, tapi sebuah perjalanan. Meskipun masih banyak kekurangan dalam diriku, tapi semua itu akan kulewati dengan manuver yang dinamis. Aku berkomitmen dengan diriku sendiri, Tidak ada kata menyerah dalam hidupku, akan kulalui hari-hariku dengan penuh percaya diri, Aku harus bangkit dri ketertinggalanku, akan ku ukir nama ku dipuncak, dan semua ini akan ku yakinkan bahwa bahwa diriku pantas.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>PERJALANAN HIDUPKU<br />
Pagi yang cerah, aku duduk dimuka computer tempat kerjaku, ditemani secangkir kopi susu yang manis, ku mulai membuka lembaran hidup baruku dihari itu. Tapi saat itu teringatlah cibiran orang yang membuat terpaku  pada diriku, karena pada saat itu aku menghasilkan uang sedikit dari kerjaku, dan ada yang menawarkan pekerjaan untuk mengangkut pasir, tapi kupikir pekerjaan itu sangat berat, karena begitu banyak energi yang terbuang yang menghasilkan uang yang sedikit, Yang akhirnya pekerjaan itu kutolak. Karena bagiku pekerjaanku merupakan awal dari sebuah kesuksesanku, dan aku harus belajar dari fasilitas yang ada, yang akhirnya aku dikatakan pemalas, tapi semua itu kuhadapai dengan rendah hati dan besar jiwa, dan apapun mereka bilang aku tak peduli, karena tekatku takkan hilang, kurasa jalan hidupku masih panjang.<br />
Pada saat itu ku coba untuk meratapi hidup ku , tapi kurasa tidak ada gunanya untuk meratapinya, karena hanya terjerumus kedalam kerendahan hati dan kekecilan jiwa, yang akhirnya mnyiakan waktu yang ada. Biarpun orang berkata apa, semua itu kujadikan pelajaran pada diriku agar tidak bersifat angkuh, dan ku coba lemaskan tangan yang pegal berpangku, dan kupegang erat prinsif hidupku. Yaitu: “percaya diri adalah cara untuk meraih sukses, kesuksesan berasal dari kemauan yang kuat, kemauan yang kuat didasari iman dan akhlak yang kuat”. Lalu terpikir dalam hatiku diatas langit masih ada langit, maka paradikmaku meledak yang menciptakan bemangat, dan rasa sakit hatiku tersadar dari impianku, bagai bantuan tersambar tamparan dipipi.<br />
Setelah ku tersadar dari impianku, aku sadar bahwa terdapat kapasitas dan potensi yang berdimensi begitu besar dalam diriku, kulalui proses demi proses dalam hidupku. Sejarah mulai terukir dalam kisah perjalananku, Kucoba untuk bangkit dari ketertinggalanku, kumasuki realita kehidupan baruku, karena masih banyak celah jembatan sukses yang harus kututup. Waktu tak menunggu, semua itu harus kubuktikan  bahwa diriku pantas, aku akan bermain cantik dengan memainkan taktik dalam praktik, dengan modal talenta, waktu, dan kejujuran itupun tak cukup, aku sadar kesuksesan bukanlah tujuan akhir, tapi sebuah perjalanan. Meskipun masih banyak kekurangan dalam diriku, tapi semua itu akan kulewati dengan manuver yang dinamis. Aku berkomitmen dengan diriku sendiri, Tidak ada kata menyerah dalam hidupku, akan kulalui hari-hariku dengan penuh percaya diri, Aku harus bangkit dri ketertinggalanku, akan ku ukir nama ku dipuncak, dan semua ini akan ku yakinkan bahwa bahwa diriku pantas.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ari</title>
		<link>http://www.resensi.net/kirim-artikel/comment-page-2/#comment-41211</link>
		<dc:creator>ari</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Jan 2011 08:42:49 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://resensi.net/kirim-artikel/#comment-41211</guid>
		<description>Mencoba menghayati fungsi istri terhadap suami

&quot;Ditampakkan indah pada manusia kecintaan kepada segala yang diingini, yaitu: wanita, anak, harta yang berlimpah berupa emas, perak, kuda pilihan, ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan kehidupan dunia, padahal di sisi Allah adalah kesudahan yang baik&quot; (QS. Ali Imran:4)

Wanita adalah salah satu perhiasan dunia. Tapi tentu saja perhiasan bagi suaminya. Sedangkan suami adalah tulang punggung bagi kehidupan wanita. 
wanita sebagai istri haruslah dapat memfungsikan dirinya laksana perhiasan yang melekat pada diri pemekainya. Istri harus jadi penyejuk, pesona, dan pemberi semangat hidup bagi suaminya, laksana perhiasan emas yang menempel pada diri seorang wanita.
Namun wanita seperti apa yang jadi perhiasan dunia yang paling baik? Perhiasan dunia yang terbaik adalah wanita yang shalihah. Ciri-ciri wanita shalihah antara lain: mentaati perintah suami dalam hal kebenaran, menjadi wakil suami dalam keluarga, melayani kebutuhan seksual suami, meringankan beban belanja suami, membantu kehidupan agama suami, rela hamil dari benih suami, dan masih banyak lagi. 
Sudahkah kita menjadi seorang wanita yang termasuk dalam perhiasan dunia? Ini adalah pertanyaan untuk kita semua para istri. Semoga kita tetap mau belajar dan terus belajar, terutama saya pribadi.

Salam buat para istri</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mencoba menghayati fungsi istri terhadap suami</p>
<p>&#8220;Ditampakkan indah pada manusia kecintaan kepada segala yang diingini, yaitu: wanita, anak, harta yang berlimpah berupa emas, perak, kuda pilihan, ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan kehidupan dunia, padahal di sisi Allah adalah kesudahan yang baik&#8221; (QS. Ali Imran:4)</p>
<p>Wanita adalah salah satu perhiasan dunia. Tapi tentu saja perhiasan bagi suaminya. Sedangkan suami adalah tulang punggung bagi kehidupan wanita.<br />
wanita sebagai istri haruslah dapat memfungsikan dirinya laksana perhiasan yang melekat pada diri pemekainya. Istri harus jadi penyejuk, pesona, dan pemberi semangat hidup bagi suaminya, laksana perhiasan emas yang menempel pada diri seorang wanita.<br />
Namun wanita seperti apa yang jadi perhiasan dunia yang paling baik? Perhiasan dunia yang terbaik adalah wanita yang shalihah. Ciri-ciri wanita shalihah antara lain: mentaati perintah suami dalam hal kebenaran, menjadi wakil suami dalam keluarga, melayani kebutuhan seksual suami, meringankan beban belanja suami, membantu kehidupan agama suami, rela hamil dari benih suami, dan masih banyak lagi.<br />
Sudahkah kita menjadi seorang wanita yang termasuk dalam perhiasan dunia? Ini adalah pertanyaan untuk kita semua para istri. Semoga kita tetap mau belajar dan terus belajar, terutama saya pribadi.</p>
<p>Salam buat para istri</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ari</title>
		<link>http://www.resensi.net/kirim-artikel/comment-page-2/#comment-41153</link>
		<dc:creator>ari</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Jan 2011 14:05:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://resensi.net/kirim-artikel/#comment-41153</guid>
		<description>Ikhlas memaafkan kesalahan  orang lain adalah suatu perbuatan yang tidak mudah, apalagi jika kesalahan yang dibuatnya adalah suatu kesengajaan untuk menyakiti hati kita. 
--cut here</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ikhlas memaafkan kesalahan  orang lain adalah suatu perbuatan yang tidak mudah, apalagi jika kesalahan yang dibuatnya adalah suatu kesengajaan untuk menyakiti hati kita.<br />
&#8211;cut here</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Dido Irawan</title>
		<link>http://www.resensi.net/kirim-artikel/comment-page-2/#comment-38732</link>
		<dc:creator>Dido Irawan</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Dec 2010 13:20:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://resensi.net/kirim-artikel/#comment-38732</guid>
		<description>,,jika harus memilih antara hidup dan mati, aku sudah pasti memilih untuk mati saja...

 
Itulah yang pernah aku tulis di dinding kamar tidur ku. Masih ingat saat aku membuat tulisan itu.
Waktu itu....
         
           Aku benar- benar sedang terpuruk sekali. Tak ada seorang pun  yang meu mendekati ku. Saat itu, hampir setiap napas yang aku hembuskan terasa berat, berat dan benar- benar berat. Meski pun  napas hanyalah udara yang tidak pernah tau berapa berat timbangannya. Tapi untuk saat itu, semuanya napas yang aku hembuskan seperti bernapas didalam air, bukan air tapi pasir, bukan hanya pasir tapi juga batu krikil. Entahlah, untuk saat itu yang aku lakukan hanya mencoba untuk bisa memulai sesuatu yang baru, dan mencoba juga untuk melupakan hal yang membuat aku terpuruk.

            Saat malam tiba, aku selalu melihat beberapa bintang yang ada di langit. Meski pun kadang samar, tapi buat ku saat itu sangat berarti. Apalagi bintang- bintang juga rela membiarkan dirinya sedikit lebih samar, seperti bukan bintang lagi, hanya karena untuk agar terlihat oleh ku.

          Aku pernah punya mimpi. Hmm,, Banyak sekali malah. memang sih setiap orang boleh bermimpi. Karena banyak sekali yang selalu percaya dengan kata &quot;..hidup berawal dari mimpi..&quot;.. tapi kayanya nggak buat aku. (kenapa?) Karena, buat aku mimpi itu hanyalah mimpi sebuah sisi kehidupan yang sangat dan benar- benar kelam. Ya, meski pun aku kurang percaya, tapi aku mencoba untuk bermimpi tentang sesuatu yang lebih baik, baik dan sangat baik.
Dan.. Aku sangat bersyukur.. Semuanya jadi kenyataan. Aku bisa bangkit dari keterpurukan. Yang mungkin belum tentu orang lain akan sanggup juga untuk menjalaninya.

           Jangan pernah takut untuk bermimpi, guys. Setiap orang berhak dan sangat berhak sekali atas mimpi dari hidupnya itu, asalkan semuanya baik dan untuk lebih baik, pasti meski pun  sedikit demi sedikit, selangkah demi selangkah, mimpi itu akan terwujud.

          Dan disaat kamu harus menjauh dari mimpi- mimpi yang mungkin kamu anggap paling indah, kamu juga harus bisa menerimanya. Semuanya memang kembali kepada setiap orang yang punya mimpi itu. Dan tegantung juga apa yang dia mimpikan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>,,jika harus memilih antara hidup dan mati, aku sudah pasti memilih untuk mati saja&#8230;</p>
<p>Itulah yang pernah aku tulis di dinding kamar tidur ku. Masih ingat saat aku membuat tulisan itu.<br />
Waktu itu&#8230;.</p>
<p>           Aku benar- benar sedang terpuruk sekali. Tak ada seorang pun  yang meu mendekati ku. Saat itu, hampir setiap napas yang aku hembuskan terasa berat, berat dan benar- benar berat. Meski pun  napas hanyalah udara yang tidak pernah tau berapa berat timbangannya. Tapi untuk saat itu, semuanya napas yang aku hembuskan seperti bernapas didalam air, bukan air tapi pasir, bukan hanya pasir tapi juga batu krikil. Entahlah, untuk saat itu yang aku lakukan hanya mencoba untuk bisa memulai sesuatu yang baru, dan mencoba juga untuk melupakan hal yang membuat aku terpuruk.</p>
<p>            Saat malam tiba, aku selalu melihat beberapa bintang yang ada di langit. Meski pun kadang samar, tapi buat ku saat itu sangat berarti. Apalagi bintang- bintang juga rela membiarkan dirinya sedikit lebih samar, seperti bukan bintang lagi, hanya karena untuk agar terlihat oleh ku.</p>
<p>          Aku pernah punya mimpi. Hmm,, Banyak sekali malah. memang sih setiap orang boleh bermimpi. Karena banyak sekali yang selalu percaya dengan kata &#8220;..hidup berawal dari mimpi..&#8221;.. tapi kayanya nggak buat aku. (kenapa?) Karena, buat aku mimpi itu hanyalah mimpi sebuah sisi kehidupan yang sangat dan benar- benar kelam. Ya, meski pun aku kurang percaya, tapi aku mencoba untuk bermimpi tentang sesuatu yang lebih baik, baik dan sangat baik.<br />
Dan.. Aku sangat bersyukur.. Semuanya jadi kenyataan. Aku bisa bangkit dari keterpurukan. Yang mungkin belum tentu orang lain akan sanggup juga untuk menjalaninya.</p>
<p>           Jangan pernah takut untuk bermimpi, guys. Setiap orang berhak dan sangat berhak sekali atas mimpi dari hidupnya itu, asalkan semuanya baik dan untuk lebih baik, pasti meski pun  sedikit demi sedikit, selangkah demi selangkah, mimpi itu akan terwujud.</p>
<p>          Dan disaat kamu harus menjauh dari mimpi- mimpi yang mungkin kamu anggap paling indah, kamu juga harus bisa menerimanya. Semuanya memang kembali kepada setiap orang yang punya mimpi itu. Dan tegantung juga apa yang dia mimpikan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: rodli jauhari fauzi</title>
		<link>http://www.resensi.net/kirim-artikel/comment-page-2/#comment-38114</link>
		<dc:creator>rodli jauhari fauzi</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 05 Dec 2010 02:04:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://resensi.net/kirim-artikel/#comment-38114</guid>
		<description>Berhenti Makan Sebelum Kenyang...

Muqauqis adalah Raja Mesir pada masa Rasul, dia mengutus seorang tabib untuk datang kekota Madinah sebagai ungkapan solidaritas sosial untuk mengobati penduduk Madinah. setelah tabib bermukim berapa lama di Madinah, ternyata tidak ada seorang wargapun yang berobat kesana, yang akhirnya si-tabib itu punya rencana untuk kembali ke kota asalnya saja karena memang dia tidak ada kerjaan sama sekali di Madinah. namun sebelum dia pergi dari madinah, dia bertanya kepada nabi &quot;tuan, izinkan kami mengetahui rahasia apakah tidak seorangpun yang mengeluh sakit disini?&quot; Rasul menjawab dengan bahasa yang simpel &quot;Kami adalah kaum yang tidak makan sebelum merasa lapar, dan ketika kami makan, kami tidak sampai kenyang&quot; HR. Abu Dawud.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Berhenti Makan Sebelum Kenyang&#8230;</p>
<p>Muqauqis adalah Raja Mesir pada masa Rasul, dia mengutus seorang tabib untuk datang kekota Madinah sebagai ungkapan solidaritas sosial untuk mengobati penduduk Madinah. setelah tabib bermukim berapa lama di Madinah, ternyata tidak ada seorang wargapun yang berobat kesana, yang akhirnya si-tabib itu punya rencana untuk kembali ke kota asalnya saja karena memang dia tidak ada kerjaan sama sekali di Madinah. namun sebelum dia pergi dari madinah, dia bertanya kepada nabi &#8220;tuan, izinkan kami mengetahui rahasia apakah tidak seorangpun yang mengeluh sakit disini?&#8221; Rasul menjawab dengan bahasa yang simpel &#8220;Kami adalah kaum yang tidak makan sebelum merasa lapar, dan ketika kami makan, kami tidak sampai kenyang&#8221; HR. Abu Dawud.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: jaya orsha</title>
		<link>http://www.resensi.net/kirim-artikel/comment-page-2/#comment-37423</link>
		<dc:creator>jaya orsha</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Dec 2010 16:29:17 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://resensi.net/kirim-artikel/#comment-37423</guid>
		<description>semua yang ada disini saya yakin mampu mengubah cara hidup orang,,sebuah artikel yang bener bener membangun generasi muda

</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>semua yang ada disini saya yakin mampu mengubah cara hidup orang,,sebuah artikel yang bener bener membangun generasi muda</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ENDRI</title>
		<link>http://www.resensi.net/kirim-artikel/comment-page-2/#comment-36876</link>
		<dc:creator>ENDRI</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Nov 2010 03:19:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://resensi.net/kirim-artikel/#comment-36876</guid>
		<description>BARU PERTAMA BUKA LANGSUNG TERSENTUH NIH DGN CERITA MAWAR THANKS YA .</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>BARU PERTAMA BUKA LANGSUNG TERSENTUH NIH DGN CERITA MAWAR THANKS YA .</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: abu ubaidillah</title>
		<link>http://www.resensi.net/kirim-artikel/comment-page-2/#comment-36667</link>
		<dc:creator>abu ubaidillah</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Nov 2010 06:53:49 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://resensi.net/kirim-artikel/#comment-36667</guid>
		<description>maaf ini kolom komen atau artikel???</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>maaf ini kolom komen atau artikel???</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

