Meja Kayu

February 14, 2009 · Filed Under Cerita Motivasi, Suara Hati   by Resensinet

Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.

Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. “Kita harus lakukan sesuatu, ” ujar sang suami. “Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini.” Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.

Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi. Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam.

Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu sedang membuat apa?”. Anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.

Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.
~Author Unknown
***
Sahabat, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka ada peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap “bangunan jiwa” yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.

Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk mereka lah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.

Cari artikel yang lain?
Cari di bawah ini:

    Ingin mendapatkan artikel dari situs ini?
    Daftarkan email anda di sini:

    Delivered by FeedBurner


Tanggapan Anda

Berikan tanggapan atas artikel/cerita motivasi di atas. Komentar saran dan kritik Anda merupakan bahan bakar kami untuk menjadi lebih baik. Terima Kasih

27 Responses to “Meja Kayu”

  1. abdul khalid datuak kayo basa on February 16th, 2009 9:59 am

    bagus banget ceritanya,semoga jadi teladan buat kita…

  2. Tasnim on February 20th, 2009 10:21 am

    Bagus !!! Minta izin mengutip artikel ini
    Semoga kita bisa menghargai dan menghormati orang tua kita

  3. Efendi kurniawan on February 26th, 2009 8:55 am

    Patut dicermati bahwa anak kita adalah tumpuan hidup kita dimasa kelak

  4. cerpen kita on February 27th, 2009 12:54 am

    orang tua harus memberi contoh yang baik untuk anak…

  5. hamer anturi on February 28th, 2009 9:22 am

    terkadang anak2 lebih melihat apa yang tidak kita lihat. thank’s

  6. icha on February 28th, 2009 1:01 pm

    sederhana tapi kena banget..hargailah,sayangilah org tua selamanya apapun dan bagaimanapun keadaan mrk..

  7. abieb on March 19th, 2009 2:00 pm

    segala sesuatu yang di ucapkan anak maka segala sesuatu di muka bumi ini bisa berubah….
    semua berawal dari yang kecil….dan akan menjadi besar,,,,,

  8. Zadie on April 29th, 2009 9:19 am

    wah gila jena bgt d gw…gw jg prnh ngalamin yg sm ky gtu cm bdany yg g gw hargai tu nenek gw..
    mungkn krn ank2nya jg g terlalu mghrgai nenek gw…
    akhrny smp skrng gw nyesel bgt ud g mnghrgai nenek gw..

  9. Anonymous on June 9th, 2009 4:50 pm

    Saluut..

  10. jefry pramana on July 30th, 2009 10:05 am

    ini fiksi or non fiksi?
    blz cpat

  11. chandra on August 17th, 2009 11:59 am

    Bgus critanya en patut dicontoh

  12. roji on August 20th, 2009 6:18 am

    kita menginginkan masa depan kita (masa tua kita) baik, cara yg terbaik adalah memberi tauladan yang baik kepada anak2 kita, sesungguhnya merekalah “masa depan” dunia kita.

  13. Exel on September 7th, 2009 10:13 am

    Mengkanya hargai orang yg lbh tua dari km krn kelak nanti kau pun akan dihargai.thanks ya motifasi menyentuh hati kecil saya.

  14. erje on September 7th, 2009 11:36 am

    hiks..hiks..hiks..

  15. rini surinche on October 19th, 2009 12:52 pm

    sangat menyentuh…dan penuh makna…perlu direnungkan…..

  16. DBS on October 22nd, 2009 3:57 am

    Suatu renungan yang luar biasa agar kita tidak lupa kepada orang tua kita sendiri. Saat kita masih kecil orang tua wajib memelihara kita,…dikala kita dewasa, kita wajib untuk dapat mengayomi dan memelihara orang tua kita.

  17. hong on November 4th, 2009 6:00 am

    enk bagat
    apa lagi pas, si anak buat boneka kayu

    merindinggg
    seru
    top

  18. yulia on November 4th, 2009 12:02 pm

    jadi pengen nangis…

  19. noe on November 11th, 2009 3:37 pm

    ku berharap masa tua ku tdk seperti kakek itu. suami istri itu bnr2 kacang lupa kulitnya]

  20. gelar purnama on November 17th, 2009 7:26 am

    Ceritanya begitu bagus….dengna cerita tersebut akuk jadi lebih menyayangi orang tua ku…..terimakasih

  21. Restu on November 17th, 2009 5:57 pm

    Sering kali mata hati kita dibutakan, akal sehat tertutup pada saat ego dan emosi kita sedang labil. Sepatutnya tangan2x ini untuk menuntun orang yg kita sayangi, untuk memeluk dia yg dicintai NAMUN sering untuk menyakiti mereka… Dan pada saat kita tersadar smua orang terkasih tlah pergi, tinggallah kita seorangdiri dg penyesalan…

  22. Anonymous on November 27th, 2009 12:35 am

    memang hidup adalah pilihan,,,,dimana kita harus memilih dan jg kita yang harus dipilih,,,,,,,,,,,aQ baru mengerti akan hidup ini jika aku tlah menemukan seseorang yang bs membuat aq hidup bahagia,,,tuhan Trima kasih atas semuanya yang kau beri untuk aku…..trimaksih atas segalanya ya allah

  23. yo'i on December 18th, 2009 9:39 pm

    apa yang kita tanam kelak akan kita tuai..

  24. Yerri on December 19th, 2009 2:14 pm

    Terima kasih, cerita seperti ini sangat bermanfaat bagi pembaca, semoga saya maupun siapa saja dapat mengambil hikmah dari cerita ini.

  25. rohan on December 24th, 2009 3:11 pm

    fiksi or non fiksi cerita ini ptut di ambil hikmah….

  26. bagus on January 3rd, 2010 1:57 pm

    ceritanya sungguh mengena dihati,, mskpun sdkit tp mknanya sangat berarti..

  27. hadi s on March 10th, 2010 7:39 am

    sangat baik, sebagai cerminan sebuah episode kehidupan. gbu

Tinggalkan Balasan




lp3k erhacendekia