Profesionalisme dalam Ibadah


March 6, 2017 · Filed Under Cerita Motivasi, Motivasi Islami   by

Terkisah, suatu hari Sayyidina Umar bin Khattab dalam peperangan melawan musuh bersiap untuk melakukan sabetan terakhir guna menyudahi lawannya yang sudah kepepet. Sang lawan kemudian meludahi muka Umar sehingga membangkitkan amarah Umar. Mendapat perlakuan begitu, Umar menjadi merah padam mukanya. Apa yang terjadi?

Ternyata Umar malah segera menyarungkan pedang dan berbalik meninggalkan lawannya.

Sang lawan terpana dan bertanya,” Mengapa engkau tidak jadi membunuhku ?”

Umar menjawab, “Aku tak mau membunuhmu karena hawa nafsu dan amarahku. Aku berperang karena membela Islam”.

Begitulah kurang lebih dialog tersebut. Rekans, perhatikan, sekelebatan amarah mampu mengubah niat berperang. Seorang pejuang dapat dengan mudah menjadi seorang pembunuh, hanya dalam sekian detik karena perubahan niat.

Tapi Sayyidina Umar tidak. Sayyidina Umar adalah prajurit profesional. Beliau bertempur untuk negara dan Islam, dan bukan untuk dirinya sendiri, sesuai dengan amanah dan job description yang diterima beliau. Mirip percakapan antara Krisna dan Adipati Karna dalam Bahgavad Gita. Karna lah yang memberikan inspirasi mengenai kedudukan seorang prajurit profesional dan kedudukan negara dalam perang. Kehormatan seseorang terletak pada bagaimana dia menuntaskan tugas profesionalnya, tanpa memedulikan kepentingan pribadi. Dalam kasus Karna, kalau perlu harus memerangi saudara – saudaranya dan memihak orang jahat sekalipun.

Rekans, Sayyidina Umar mengajarkan, bahwa manakala kita beribadah, dedikasikan sepenuhnya untuk mengabdikan diri pada niat awal kita dan mengesampingkan preferensi pribadi. Ada kekuatan dan kesadaran untuk memisahkan proses obyektif dengan menjaga jarak terhadap diri sendiri. Dan ini muncul dari kedisiplinan kita berlatih menata hati.

Kyai Muchammad Muchtar Mu’thi dari Pesantren Majma’al Bahrain, Ploso, Jombang pernah menyampaikan, “Salah satu jurus godaan setan yang lumayan tinggi, adalah menggoda manusia, agar melakukan hal hal yang dirasakan sebagai ibadah, tetapi sesungguhnya adalah suatu maksiyat. Dengan demikian, si manusia tak akan pernah bertaubat, karena MERASA apa yang dilakukannya adalah hal – hal yang baik”

hmmm Kayaknya musti di cek lagi deh niat kita, sudah pas belum dengan nilai kemanusiaan dan keimanan. Sudah pas belum dengan Laa Ilaaha Ilalloh.
Pranoto

Pencarian

,,5 hal nasehat (1),doa dengan tema berbelas kasih (1),nasehat online (1),pengertian sanjipak (1)

    Ingin berlangganan artikel?
    DAFTARKAN EMAIL ANDA DISINI:

    Delivered by FeedBurner

Tanggapan Anda

Berikan tanggapan atas artikel/cerita motivasi di atas. Komentar saran dan kritik Anda merupakan bahan bakar kami untuk menjadi lebih baik. Terima Kasih

Tinggalkan Komentar anda di Profesionalisme dalam Ibadah


Wajib diisi


Harus diisi


Optional