Setan atau Malaikat?


February 4, 2009 · Filed Under Cerita Motivasi, Suara Hati   by

Mahluk yang paling menakjubkan adalah manusia, karena dia bisa memilih untuk menjadi “setan atau malaikat”.
–John Scheffer-

Dari pinggir kaca nako, di antara celah kain gorden, saya melihat lelaki itu mondar-mandir di depan rumah. Matanya berkali-kali melihat ke rumah saya. Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap keringat di keningnya.

Dada saya berdebar menyaksikannya. Apa maksud remaja yang bisa jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung saya yang baru kelas 2 SMU itu? Melihat tingkah lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk dengan keluarga saya? Mau merampok? Bukankah sekarang ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang hari saat orang-orang lalu-lalang pun penodong bisa beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau dia punya masalah dengan Yudi, anak saya?

Kenakalan remaja saat ini tidak lagi enteng. Tawuran telah menjadikan puluhan remaja meninggal. Saya berdoa semoga lamunan itu salah semua. Tapi mengingat peristiwa buruk itu bisa saja terjadi, saya mengunci seluruh pintu dan jendela rumah. Di rumah ini, pukul sepuluh pagi seperti ini, saya hanya seorang diri. Kang Yayan, suami saya, ke kantor. Yudi sekolah, Yuni yang sekolah sore pergi les Inggris, dan Bi Nia sudah seminggu tidak masuk.

Jadi kalau lelaki yang selalu memperhatikan rumah saya itu menodong, saya bisa apa? Pintu pagar rumah memang terbuka. Siapa saja bisa masuk.

Tapi mengapa anak muda itu tidak juga masuk? Tidakkah dia menunggu sampai tidak ada orang yang memergoki? Saya sedikit lega saat anak muda itu berdiri di samping tiang telepon. Saya punya pikiran lain. Mungkin dia sedang menunggu seseorang, pacarnya, temannya, adiknya, atau siapa saja yang janjian untuk bertemu di tiang telepon itu. Saya memang tidak mesti berburuk sangka seperti tadi. Tapi dizaman ini, dengan peristiwa-peristiwa buruk, tenggang rasa yang semakin menghilang, tidakkah rasa curiga lebih baik daripada lengah?

Saya masih tidak beranjak dari persembunyian, di antara kain gorden, di samping kaca nako. Saya masih was-was karena anak muda itu sesekali masih melihat ke rumah. Apa maksudnya? Ah, bukankah banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak ada jawabannya.

Terlintas di pikiran saya untuk menelepon tetangga. Tapi saya takut jadi ramai. Bisa-bisa penduduk se-kompleks mendatangi anak muda itu. Iya kalau anak itu ditanya-tanya secara baik, coba kalau belum apa-apa ada yang memukul.

Tiba-tiba anak muda itu membalikkan badan dan masuk ke halaman rumah. Debaran jantung saya mengencang kembali. Saya memang mengidap penyakit jantung. Tekad saya untuk menelepon tetangga sudah bulat, tapi kaki saya tidak bisa melangkah. Apalagi begitu anak muda itu mendekat, saya ingat, saya pernah melihatnya dan punya pengalaman buruk dengannya. Tapi anak muda itu tidak lama di teras rumah. Dia hanya memasukkan sesuatu ke celah di atas pintu dan bergegas pergi. Saya masih belum bisa mengambil benda itu karena kaki saya masih lemas.

Saya pernah melihat anak muda yang gelisah itu di jembatan penyeberangan, entah seminggu atau dua minggu yang lalu. Saya pulang membeli bumbu kue waktu itu. Tiba-tiba di atas jembatan penyeberangan, saya ada yang menabrak, saya hampir jatuh. Si penabrak yang tidak lain adalah anak muda yang gelisah dan mondar-mandir di depan rumah itu, meminta maaf dan bergegas mendahului saya. Saya jengkel, apalagi begitu sampai di rumah saya tahu dompet yang disimpan di kantong plastik, disatukan dengan bumbu kue, telah raib.

Dan hari ini, lelaki yang gelisah dan si penabrak yang mencopet itu, mengembalikan dompet saya lewat celah di atas pintu. Setelah saya periksa, uang tiga ratus ribu lebih, cincin emas yang selalu saya simpan di dompet bila bepergian, dan surat-surat penting, tidak ada yang berkurang.

Lama saya melihat dompet itu dan melamun. Seperti dalam dongeng. Seorang anak muda yang gelisah, yang siapa pun saya pikir akan mencurigainya, dalam situasi perekonomian yang morat-marit seperti ini, mengembalikan uang yang telah digenggamnya. Bukankah itu ajaib, seperti dalam dongeng. Atau hidup ini memang tak lebih dari sebuah dongengan?

Bersama dompet yang dimasukkan ke kantong plastik hitam itu saya menemukan surat yang dilipat tidak rapi. Saya baca surat yang berhari-hari kemudian tidak lepas dari pikiran dan hati saya itu. Isinya seperti ini:

—–

“Ibu yang baik…, maafkan saya telah mengambil dompet Ibu. Tadinya saya mau mengembalikan dompet Ibu saja, tapi saya tidak punya tempat untuk mengadu, maka saya tulis surat ini, semoga Ibu mau membacanya.

Sudah tiga bulan saya berhenti sekolah. Bapak saya di-PHK dan tidak mampu membayar uang SPP yang berbulan-bulan sudah nunggak, membeli alat-alat sekolah dan memberi ongkos. Karena kemampuan keluarga yang minim itu saya berpikir tidak apa-apa saya sekolah sampai kelas 2 STM saja. Tapi yang membuat saya sakit hati, Bapak kemudian sering mabuk dan judi buntut yang beredar sembunyi-sembunyi itu.

Adik saya yang tiga orang, semuanya keluar sekolah. Emak berjualan goreng-gorengan yang dititipkan di warung-warung. Adik-adik saya membantu mengantarkannya. Saya berjualan koran, membantu-bantu untuk beli beras.

Saya sadar, kalau keadaan seperti ini, saya harus berjuang lebih keras. Saya mau melakukannya. Dari pagi sampai malam saya bekerja. Tidak saja jualan koran, saya juga membantu nyuci piring di warung nasi dan kadang (sambil hiburan) saya ngamen. Tapi uang yang pas-pasan itu (Emak sering gagal belajar menabung dan saya maklum), masih juga diminta Bapak untuk memasang judi kupon gelap. Bilangnya nanti juga diganti kalau angka tebakannya tepat. Selama ini belum pernah tebakan Bapak tepat. Lagi pula Emak yang taat beribadah itu tidak akan mau menerima uang dari hasil judi, saya yakin itu.

Ketika Bapak semakin sering meminta uang kepada Emak, kadang sambil marah-marah dan memukul, saya tidak kuat untuk diam. Saya mengusir Bapak. Dan begitu Bapak memukul, saya membalasnya sampai Bapak terjatuh-jatuh. Emak memarahi saya sebagai anak laknat. Saya sakit hati. Saya bingung. Mesti bagaimana saya?

Saat Emak sakit dan Bapak semakin menjadi dengan judi buntutnya, sakit hati saya semakin menggumpal, tapi saya tidak tahu sakit hati oleh siapa. Hanya untuk membawa Emak ke dokter saja saya tidak sanggup. Bapak yang semakin sering tidur entah di mana, tidak perduli. Hampir saya memukulnya lagi.

Di jalan, saat saya jualan koran, saya sering merasa punya dendam yang besar tapi tidak tahu dendam oleh siapa dan karena apa. Emak tidak bisa ke dokter. Tapi orang lain bisa dengan mobil mewah melenggang begitu saja di depan saya, sesekali bertelepon dengan handphone. Dan di seberang stopan itu, di warung jajan bertingkat, orang-orang mengeluarkan ratusan ribu untuk sekali makan.

Maka tekad saya, Emak harus ke dokter. Karena dari jualan koran tidak cukup, saya merencanakan untuk mencopet. Berhari-hari saya mengikuti bus kota, tapi saya tidak pernah berani menggerayangi saku orang. Keringat dingin malah membasahi baju. Saya gagal jadi pencopet.

Dan begitu saya melihat orang-orang belanja di toko, saya melihat Ibu memasukkan dompet ke kantong plastik. Maka saya ikuti Ibu. Di atas jembatan penyeberangan, saya pura-pura menabrak Ibu dan cepat mengambil dompet. Saya gembira ketika mendapatkan uang 300 ribu lebih.

Saya segera mendatangi Emak dan mengajaknya ke dokter. Tapi Ibu…, Emak malah menatap saya tajam. Dia menanyakan, dari mana saya dapat uang. Saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu tabungan saya, atau meminjam dari teman. Tapi saya tidak bisa berbohong. Saya mengatakan sejujurnya, Emak mengalihkan pandangannya begitu saya selesai bercerita.

Di pipi keriputnya mengalir butir-butir air. Emak menangis. Ibu…, tidak pernah saya merasakan kebingungan seperti ini. Saya ingin berteriak. Sekeras-kerasnya. Sepuas-puasnya. Dengan uang 300 ribu lebih sebenarnya saya bisa makan-makan, mabuk, hura-hura. Tidak apa saya jadi pencuri. Tidak perduli dengan Ibu, dengan orang-orang yang kehilangan. Karena orang-orang pun tidak perduli kepada saya. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Saya harus mengembalikan dompet Ibu. Maaf.”

—–

Surat tanpa tanda tangan itu berulang kali saya baca. Berhari-hari saya mencari-cari anak muda yang bingung dan gelisah itu. Di setiap stopan tempat puluhan anak-anak berdagang dan mengamen. Dalam bus-bus kota. Di taman-taman. Tapi anak muda itu tidak pernah kelihatan lagi. Siapapun yang berada di stopan, tidak mengenal anak muda itu ketika saya menanyakannya.

Lelah mencari, di bawah pohon rindang, saya membaca dan membaca lagi surat dari pencopet itu. Surat sederhana itu membuat saya tidak tenang. Ada sesuatu yang mempengaruhi pikiran dan perasaan saya. Saya tidak lagi silau dengan segala kemewahan. Ketika Kang Yayan membawa hadiah-hadiah istimewa sepulang kunjungannya ke luar kota, saya tidak segembira biasanya.Saya malah mengusulkan oleh-oleh yang biasa saja.

Kang Yayan dan kedua anak saya mungkin aneh dengan sikap saya akhir-akhir ini. Tapi mau bagaimana, hati saya tidak bisa lagi menikmati kemewahan. Tidak ada lagi keinginan saya untuk makan di tempat-tempat yang harganya ratusan ribu sekali makan, baju-baju merk terkenal seharga jutaan, dan sebagainya.

Saya menolaknya meski Kang Yayan bilang tidak apa sekali-sekali. Saat saya ulang tahun, Kang Yayan menawarkan untuk merayakan di mana saja. Tapi saya ingin memasak di rumah, membuat makanan, dengan tangan saya sendiri. Dan siangnya, dengan dibantu Bi Nia, lebih seratus bungkus nasi saya bikin. Diantar Kang Yayan dan kedua anak saya, nasi-nasi bungkus dibagikan kepada para pengemis, para pedagang asongan dan pengamen yang banyak di setiap stopan.

Di stopan terakhir yang kami kunjungi, saya mengajak Kang Yayan dan kedua anak saya untuk makan bersama. Diam-diam air mata mengalir dimata saya.

Yuni menghampiri saya dan bilang, “Mama, saya bangga jadi anak Mama.” Dan saya ingin menjadi Mama bagi ribuan anak-anak lainnya.

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Pencarian

,,cerita malaikat (76),cerita motivasi menyentuh hati (76),artikel setan (72),cerita tentang malaikat (60),Artikel malaikat (42),setan dan malaikat (39),setan atau malaikat (39),artikel tentang setan (36),cerita terharu (35),cerita nyata motivasi (26),kisah motivasi remaja (26),cerita motivasi kisah nyata (25),cerita setan (18),kumpulan cerita malaikat (16),kisah para malaikat (12)

    Ingin berlangganan artikel?
    DAFTARKAN EMAIL ANDA DISINI:

    Delivered by FeedBurner

Tanggapan Anda

Berikan tanggapan atas artikel/cerita motivasi di atas. Komentar saran dan kritik Anda merupakan bahan bakar kami untuk menjadi lebih baik. Terima Kasih

95 Tanggapan Pada Artikel/Cerita Setan atau Malaikat? Diatas

  1. Tanggapan oleh rere on April 15th, 2010 1:28 pm

    jadi sadar nih ! q sering buang2 duit bwt hal2 yg ngga ada guna padahal disisi lain uang itu sangat berarti ! astagfirulahaladzim

  2. Tanggapan oleh carlos on April 15th, 2010 1:33 pm

    hikssss

  3. Tanggapan oleh rino on April 28th, 2010 11:17 pm

    askum smwa..
    aq kagum sama ibu pencerita kuk bs msh inget (komitmen) n bisa menceritakan kpd qt smwa. y allah mdh2an qt smwa bs menjadi yg terbaik buat diri qt n orang2 disekitar qt.. amin..amin..amin
    waskum

  4. Tanggapan oleh hayba on May 3rd, 2010 11:20 am

    membaca ini air mata tak terasa bercucuran…. nice story.. Ya Allah jadikan aku org tau bersyukur atas nikmat Mu

  5. Tanggapan oleh Eva Agustriana on May 26th, 2010 4:59 am

    A Nice Story,,,,

  6. Tanggapan oleh Woeland on June 15th, 2010 10:38 am

    Subhanallah…nice story….sebuah kisah yg bisa jd ibrah bagi qt semua….

  7. Tanggapan oleh chika on June 16th, 2010 3:16 pm

    ya Tuhan kisah yang sungguh sangat menyentuh…

  8. Tanggapan oleh bhendjhen on June 21st, 2010 1:28 pm

    menyentuh sangaddddd………

  9. Tanggapan oleh Ruly Octashegun on June 25th, 2010 12:25 pm

    crita p’tma.y sich kurang menarik,

    yg menarik.y saat ank yg mencopet itu msk & mengembaLikan dompet beserta isi”.y.,.

    smoowga,
    diy zaman yg seperti iniy,
    msich ad org yg mampu b’buat sperti ank itu.,.

    Ganbatte . . .
    dLm menghdapi khidupan yg bgitu btuh pengorbanan iniy

  10. Tanggapan oleh mvmank on June 30th, 2010 1:41 pm

    subhanallah….
    ceritanya bagusss banget..
    ya Allah semoga aq bisa bermanfaat bagi orang lain..

  11. Tanggapan oleh Fanny on July 2nd, 2010 11:32 am

    Ya allah…… ternyata di dunia ini masih ada anak yang memegang teguh imannya.
    Salut buat anak jalanan tersebut.

  12. Tanggapan oleh pencari kebenaran on July 5th, 2010 9:38 am

    semoga yang memberi kebenaran selalu di cerahkan di akherat nanti amien

  13. Tanggapan oleh dery ujang’S on August 10th, 2010 7:39 pm

    sampek bingung mau comment gmn,,,,,,,,,,,
    terharu banget…..

  14. Tanggapan oleh nuruddin,21,padang on August 11th, 2010 4:06 pm

    it very wonderful…
    i dont realize that the end story is best, give many inspiration

    i am very sad with man. his life is very hard with all test. the letter which he send give many lesson in my life. it is in our life, we maynot arrogant and dont care with many people who life suffer. ..let i realize all my mistake. Amin

  15. Tanggapan oleh rio on August 17th, 2010 10:21 pm

    ssssiiiipppp God Job MAN

  16. Tanggapan oleh depe on August 21st, 2010 1:32 pm

    syukuri apa yg kita punya niscaya hati kita akan KAYA

  17. Tanggapan oleh Anonymous on August 28th, 2010 6:41 am

    BETUL DAN SETUJU.

  18. Tanggapan oleh Anonymous on August 28th, 2010 6:42 am

    BERSYUKURLAH SETIAP HARI KARENA SYRAT UTAAMA ANDA MENJADI KAYA RAYA

  19. Tanggapan oleh ateng sumarna on September 10th, 2010 5:12 pm

    Uahhhh…………saya jadi lemes membacanya, luar biasa, luar biasa…makasih admin. Izin CP ke blog saya.

  20. Tanggapan oleh dhiyya on September 19th, 2010 1:47 pm

    Subhannallah… cerita yang sangat bagus dan mengharukan….
    semoga bisa jadi teladan untuk kita…
    Amiin…

  21. Tanggapan oleh ryan on September 28th, 2010 8:18 pm

    Subhanalloh…sy tdk bisa berkata2, sungguh anak yang luar biasa.

  22. Tanggapan oleh Riki on November 5th, 2010 12:53 am

    Sungguh terharu bacanya..

  23. Tanggapan oleh Dee on November 9th, 2010 5:34 pm

    mrebes mili tenan, cerita menyentuh hati

  24. Tanggapan oleh ekonug on November 21st, 2010 7:19 pm

    sangat menyentuh, semoga saya bisa menjalaninya dengan ikhlas

  25. Tanggapan oleh ekonug on November 21st, 2010 7:20 pm

    sangat menyentuh, semoga saya bisa menjalaninya dengan ikhlas.

  26. Tanggapan oleh wahyu.ipb on November 22nd, 2010 5:08 pm

    ini sangat menarik, kalau bisa pertemukan lagi ia dengan anak muda itu

  27. Tanggapan oleh hilmi on December 6th, 2010 9:52 am

    benar-benar kisah yang menyentuh, tak terpikirkan selama ini ternyata begitu banyak kehidupan diluar sana yang tidak kita ketahui. kisah tersebut menjadi pelajaran yang sangat berharga. mau minta ijin mengcopynya supaya lebih banyak orang yang membaca

  28. Tanggapan oleh Cia on December 7th, 2010 11:11 am

    Di balik Cerita yg sederhana ini, terkandung pelajaran yg sungguh berharga

  29. Tanggapan oleh rama on December 12th, 2010 4:03 pm

    cerita yang menyentuh ,,
    terharu saya dengan ceritanya ..
    saya yang selama ini hanya meminta uang kepada orang tua jadi ikut prihatin ,,
    karna saya sebagai anak hanya bisa meminta dah meminta

  30. Tanggapan oleh Dadang Subagja on December 12th, 2010 4:16 pm

    Subhanallah…
    Cerita yang luarrrr biasa

  31. Tanggapan oleh zemick on December 27th, 2010 4:42 pm

    bagus banget… tak terasa setetes air mataku jatuh…aku jd inget sama ibuku…aku belum mampu membahagiakan orang tuaku… & aku malah lbih memilih membahagiakan diriku sendiri…

  32. Tanggapan oleh rudi on December 28th, 2010 3:33 pm

    Terharu membaca….
    seandaix didunia ini ada banyak orang spt ibu itu..
    maka tidak ada orang yang akan merasa kelaparan

  33. Tanggapan oleh otiddito on January 29th, 2011 2:47 am

    saya suka bnget artikelnya..
    izin copy ya.. 🙂

  34. Tanggapan oleh olyvia on February 12th, 2011 10:41 am

    trimakasih, ceritanya bagus sekali.. tak disadari air mata jatuh kerana hati telah tersentuh. Tuhan memberkati ibu dan juga anak muda itu.

  35. Tanggapan oleh Nur Kusnadi on February 18th, 2011 7:10 am

    Terima kasih atas ceritanya….ini sangat membantu kehidupan saya untuk berubah..

  36. Tanggapan oleh Andre on March 24th, 2011 7:16 am

    Bagus Banget ceritanya…..

  37. Tanggapan oleh Angga on March 27th, 2011 12:49 am

    Sangat terharu, tdk terasa airmata menetes ketika sya membacanya. apa yg penulis rasakan sering saya rasakan, saya sll pny impian kapan bisa saya membantu orang yg kekurangan dan diri saya bermanfaat untuk org yg kekurangan.

  38. Tanggapan oleh RhaArian on April 17th, 2011 7:01 pm

    jadi terharu. pengen nangis 🙁

  39. Tanggapan oleh satria indra putra on November 22nd, 2011 11:13 am

    terharu aku mendengar cerita ini…..

  40. Tanggapan oleh Menjadi Pemenang Dalam Pertarungan!!. | mohammad ridwan on March 22nd, 2012 5:12 pm

    […] si Aanto dan si Anto tak bisa melihat si Budi. Itulah kenapa kita sering kalah berperang melawan setan, karena setan bisa dengan jelas melihat kita, menyerang kita dari kanan, kiri, depan dan belakang […]

  41. Tanggapan oleh Toni on July 18th, 2012 11:11 am

    Hidup ini memang sebuah pilihan…
    mau jadi … malaikat atau … setan

  42. Tanggapan oleh Wisnu on July 28th, 2012 2:40 pm

    the story makes me sad !

  43. Tanggapan oleh Fery on July 30th, 2012 9:37 pm

    Cerita yang sangat bagus untuk dibaca

Tinggalkan Komentar anda di Setan atau Malaikat?


Wajib diisi


Harus diisi


Optional