Telinga dan Tangan Ibu


October 10, 2008 · Filed Under Sosok Motivasi, Suara Hati   by

Berada bersama ibu begitu menenangkan. Sebab rasanya ibu tak pernah lelah menjadi ‘telinga terbaik’ bagi setiap cerita yang mengalir deras dari mulut saya, setiap kali sampai di rumah, selesai beraktifitas seharian. Ibu tak perlu bertanya apapun, saya akan duduk manis berlama-lama di kamarnya, menumpahkan segala yang telah memenuhsesakkan dada ini. Saya tak pernah berpikir sebelumnya, bahwa celoteh saya saat itu bisa jadi akan menambah lelah dan memberatkan beban yang sudah menggelantung di pundak ibu. Tapi senyumnya tetap melipur hati, seolah letih itu tak ada.

Hari itu, saya begitu tergesa sampai di sekolah, hampir saja terlambat. Pagi-pagi sekali, tidak seperti biasanya, saya telah ikut sibuk membereskan banyak sekali barang. Sekitar pukul tujuh, saya dan ibu telah berada di sebuah lobby hotel terkenal di Jakarta. Hari itu, untuk yang pertama kalinya, saya berhadapan dengan sekian banyak turis yang berseliweran dengan wajah-wajah penuh antusias memandangi, melihat-lihat, dan bercakap-cakap dengan kami-para penjaja barang dagangan di stand bazaar. Kali itu, saat yang istimewa bagi ibu, hari pertama menjadi peserta bazaar yang dihadiri para turis maupun pekerja asing. Saya pun tak kalah semangatnya, sepanjang siang di sekolah tak henti-hentinya tersenyum-senyum sendiri, sampai teman sebangku saya-Rani namanya-rasanya sudah begitu bosan mendengar celotehan saya tentang pengalaman pagi itu. Menyaksikan dan terkikik geli mendengar ibu bercakap-cakap dengan para pembeli. Ngawur, tapi tetap saja ngotot. Padahal ibu tak bisa berbahasa Inggris.

Saya rasa Allah telah menganugerahkan ibu sepasang ‘tangan ajaib’. Saya ingat, belasan tahun lalu, saat saya duduk di bangku SD, rumah kami penuh dengan pernak-pernik. Saat itu, puluhan gulung pita berwarna-warni menumpuk di sudut kamar. Berjejeran pula berlembar-lembar karton tebal, busa, serta tumpukan kain. Saat itu, saya selalu senang memandangi dan bermain-main di ‘pojok berantakan’ milik ibu. Kedua tangannya telah menghasilkan barang-barang yang begitu menarik di mata saya. Saat itu, saya dengan gembira menyambut tawaran ibu untuk menjadi ‘asistennya’. Dan saya pun asyik bergumul dengan plastik-plastik kecil, membukanya kemudian memasukkan pita rambut warna-warni hasil karya ibu, dan menjepitnya dengan stapler. Hanya itu. Ibu tak memperkenankan saya untuk menyentuh ‘tempat foto’ cantik buatannya, yang digantung berjejer di dinding mar. Belum lagi tumpukan souvenir pesta pernikahan, entah ada berapa ratus. Kegembiraan saya berada di antara benda-benda menarik itu seperti membuat saya lupa, bahwa saya sering menemukan ibu terkantuk-kantuk duduk di ‘meja operasi’nya sampai tengah malam, menyelesaikan pesanan.

Ibu telah menghabiskan entah berapa bagian waktu dalam hidupnya untuk menjadi ‘ember’ ternyaman bagi diri saya. Di sanalah saya menumpahkan segala macam hal yang sering membuat ibu tersenyum geli, tertawa, atau mungkin juga turut bersedih atas apa yang saya alami. Ajaibnya, kini saya tak lagi perlu memulai percakapan itu. Sepertinya ibu telah mengetahui segala isi hati saya, tanpa perlu saya ungkapkan. Begitukah seorang ibu? Saya sempat berpikir, tak usahlah lagi menceritakan segala hal padanya. Mungkin itu hanya akan menambah lelahnya. Saya memutuskan untuk berhenti berceloteh pada ibu, toh saya sudah dewasa, dan tak lagi pantas memberatkannya dengan hal-hal tak penting macam celotehan itu. Namun hari itu, ibu menelpon saya ke kantor dan menegur saya, “Ta, kapan kamu ke rumah? Kita kan udah lama nggak cerita-cerita…”

Ibu tak hanya pendengar setia bagi celoteh anaknya, namun ia juga telah memberi dan mengajarkan saya banyak hal melalui kedua ‘tangan ajaib’nya. Ia mengajarkan saya untuk selalu berusaha menjadi pendengar yang baik bagi orang lain, melalui mimik wajah serta kalimat-kalimatnya menanggapi setiap perkataan yang saya ucapkan. Saya belajar, bahwa setiap perhatian kecil yang diberikan kepada seorang anak, maka yang tersimpan padanya adalah sebuah kasih sayang besar dan keyakinan bahwa ia disayangi. Saya belajar, bahwa kedua tangan anugerah Allah ini, adalah modal bagi kerja keras yang harus dilakukan demi orang-orang tercinta, keluarga. Entah apapun yang dapat diperbuat.

Saya tak heran, betapa banyak teman dan relasi bisnis yang ibu miliki sekarang. Banyak pula kerabat dekat yang betah berlama-lama mengobrol dengan ibu. Tak sedikit orang yang mengagumi ‘bakat’ yang mereka katakan terhadap keterampilan yang ibu miliki. Ibu menyebutnya hobi, tapi saya memahaminya sebagai cara ibu bersenang-senang dengan ‘tuntutan’ padanya untuk membantu ayah membiayai keluarga. Seringkali lelah membayang dalam raut wajah ibu, namun tak jarang saya mendapatinya berbinar kala ‘tangan ajaib’nya telah berhasil ‘menciptakan’ karya baru.

Sekarang ini, adalah giliran saya untuk menjadi ‘telinga terbaik’ bagi ibu sampai hari tuanya nanti, dan mempersembahkan hasil yang dapat saya raih dari kedua belah tangan ini untuk membahagiakannya.

Sumber: Eramuslim.com

Pencarian

,,cerita tentang ibu (496),cerita motivasi tentang ibu (347),cerita motivasi ibu (332),motivasi tentang ibu (180),kumpulan cerita tentang ibu (141),cerita ibu (103),motivasi dari ibu (27),kumpulan cerita tentang pengalaman malam pertama (21),cerita bahasa inggris tentang ibu (20),kumpulan kisah tentang ibu (16),artikel ibu (15),kumpulan kisah ibu (14),kumpulan cerita motivasi ibu (13),artikel cerpen tentang ibu (12),cerita tentang ibu dalam bahasa inggris (11)

    Ingin berlangganan artikel?
    DAFTARKAN EMAIL ANDA DISINI:

    Delivered by FeedBurner

Tanggapan Anda

Berikan tanggapan atas artikel/cerita motivasi di atas. Komentar saran dan kritik Anda merupakan bahan bakar kami untuk menjadi lebih baik. Terima Kasih

7 Tanggapan Pada Artikel/Cerita Telinga dan Tangan Ibu Diatas

  1. Tanggapan oleh Arnyasha on October 12th, 2008 11:30 pm

    So touching,thanx,it inspires me to do more 4my mom

  2. Tanggapan oleh Er0ne on November 16th, 2008 3:03 am

    Ibu memang tak pernah lelah bg anaknya..ibu akan melakukan yg t’baik bt anaknya..
    Aku pun cnta ibuku lbh dr sgalanya..
    Ibu aku sayang kamu..

  3. Tanggapan oleh mya on December 16th, 2008 11:47 pm

    sya menangis lg pg ini…it’s ispire me a lot…now ,i realised that i adore her patience a lot…may god bless u mom…

  4. Tanggapan oleh vaco82 on September 11th, 2009 5:04 am

    so touching..cerita ini bagaikan cermin untukku, semua yg ada di cerita ini adalah bagaikan suara hatiku juga.. I LOVE U so much MOM

  5. Tanggapan oleh ae on November 14th, 2009 10:38 am

    cerita Ne membuatQ + cayanx 5 bundaQ
    I MISS U MOM

  6. Tanggapan oleh rien on December 20th, 2009 9:16 pm

    qt akan dptkan apa yg prnh qt lakukan,,,ketika ibu melakukan smua’y, dia tdk prnah berpikir utk dpt balasan dr yg tlah dilakukannya…
    so,,,kalo qt juga ingin dptkan hal yg baik dr anak qt, maka mulailah dr diri qt tuk berbuat baik pada ibu (ortu),

  7. Tanggapan oleh shindy ariane on January 14th, 2011 3:51 pm

    Haduuhh…beruntungnyaa punya ibu sperti itu.. Brsyukurlah kamu yg punya ibu diatas. Gw ü??? mrasakan smua yg pait2 dr ibu gw, tnpa ada yg manis 1pun. Yg pnting skarang saatnya aq mnjadi ibu yg TERBAIK utk anakku! Biar anakku ga mrasakan apa yg pahit2 yg dialami oleh ibunya dulu dn skarang!!! Amin..

Tinggalkan Komentar anda di Telinga dan Tangan Ibu


Wajib diisi


Harus diisi


Optional


5 + = 8